Etika Kepemimpinan dalam masyarakat Jawa dikenal dengan istilah “Hasta Brata”. Istilah ini diambil dari buku Ramayana karya Yasadipura I yang hidup pada akhir abad ke-18 (1729-1803 M) di keraton Surakarta.
Secara etimologis, “hasta” artinya delapan, sedangkan “Brata” artinya langkah. Secara terminologis berarti delapan langkah yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam mengemban misi kepemimpinannya. Langkah-langkah tersebut mencontoh delapan watak dari benda-benda di alam yakni Bumi, Matahari, Bulan. Bintang, Api, Angin, laut, dan Air.
* Bumi, wataknya adalah ajeg. Sifatnya yang tegas, konstan, konsisten, dan apa adanya. Bumi menawarkan kesejahteraan bagi seluruh mahkluk hidup yang ada di atasnya. Tidak pandang bulu, tidak pilih kasih, dan tidak membeda-bedakan.
* Matahari selalu memberi penerangan (di kala siang), kehangatan, serta energi yang merata di seluruh pelosok bumi. Energi dari cahaya matahari juga merupakan sumber energi dari
Jumat, 23 April 2010
Jumat, 16 April 2010
“DOSA” PANITIA PENTAS WAYANG KULIT
Artikel ini sangat menarik dan memiliki banyak filosofinya, untuk menyadarkan kita semua. Terima kasih untuk pak mBilung Sarawita yang memberi izin untuk memuat artikel beliau di blog ini. Berikut artikelnya.
“DOSA” PANITIA PENTAS WAYANG KULIT
Penulis:
Condro Bawono
penggemar pentas wayang kulit, tinggal di Kota Magelang
mbilung_sarawita@yahoo.com
mbilung@javacity.net
Keberhasilan suatu pagelaran wayang kulit semalam suntuk dapat diukur dari proporsi antara jumlah penonton sebelum babak “gara-gara” dengan jumlah penonton sesudah babak “gara-gara”. Dari banyak pertunjukan wayang kulit yang pernah penulis tonton, hanya beberapa kali penulis melihat jumlah penonton bisa dipertahankan sampai pagi. Pada kebanyakan kasus, setelah babak “gara-gara” selesai, sebagian besar penonton meninggalkan lokasi pentas dan tidak kembali lagi. Bahkan, tidak jarang terjadi, sebelum babak “gara-gara” pun, ketika pertunjukan baru berjalan satu-dua jam, banyak penonton sudah mulai meninggalkan lokasi.
Kenyataan ini cukup memprihatinkan, mengingat bahwa sesungguhnya justru di babak pasca “gara-gara” itulah berbagai pertanyaan, persoalan dan misteri yang disajikan oleh sang dalang selama babak pra “gara-gara” menjadi terjawab, terselesaikan dan terungkap. Para penonton tidak menikmati satu lakon wayang secara utuh. Nilai-nilai adiluhung dan ajaran kebajikan yang “dibawa pulang” oleh para penonton menjadi tidak lengkap pula.
Dari pengamatan penulis, keadaan itu terjadi bukan semata-mata karena faktor kualitas dan popularitas dalang. Kalau cuma karena faktor dalangnya tidak populer, tentunya jumlah penonton sudah sedikit sejak awal pertunjukan. Tetapi yang penulis prihatinkan sering terjadi
“DOSA” PANITIA PENTAS WAYANG KULIT
Penulis:
Condro Bawono
penggemar pentas wayang kulit, tinggal di Kota Magelang
mbilung_sarawita@yahoo.com
mbilung@javacity.net
Keberhasilan suatu pagelaran wayang kulit semalam suntuk dapat diukur dari proporsi antara jumlah penonton sebelum babak “gara-gara” dengan jumlah penonton sesudah babak “gara-gara”. Dari banyak pertunjukan wayang kulit yang pernah penulis tonton, hanya beberapa kali penulis melihat jumlah penonton bisa dipertahankan sampai pagi. Pada kebanyakan kasus, setelah babak “gara-gara” selesai, sebagian besar penonton meninggalkan lokasi pentas dan tidak kembali lagi. Bahkan, tidak jarang terjadi, sebelum babak “gara-gara” pun, ketika pertunjukan baru berjalan satu-dua jam, banyak penonton sudah mulai meninggalkan lokasi.
Kenyataan ini cukup memprihatinkan, mengingat bahwa sesungguhnya justru di babak pasca “gara-gara” itulah berbagai pertanyaan, persoalan dan misteri yang disajikan oleh sang dalang selama babak pra “gara-gara” menjadi terjawab, terselesaikan dan terungkap. Para penonton tidak menikmati satu lakon wayang secara utuh. Nilai-nilai adiluhung dan ajaran kebajikan yang “dibawa pulang” oleh para penonton menjadi tidak lengkap pula.
Dari pengamatan penulis, keadaan itu terjadi bukan semata-mata karena faktor kualitas dan popularitas dalang. Kalau cuma karena faktor dalangnya tidak populer, tentunya jumlah penonton sudah sedikit sejak awal pertunjukan. Tetapi yang penulis prihatinkan sering terjadi
Senin, 29 Maret 2010
Hadirilah Pentas Wayang Kulit!
Hadirilah Pentas Wayang Kulit Semalam Suntuk GRATIS!
Dalam rangka Syukuran BKT (Banjir Kanal Timur) Tembus Laut.
Dengan Lakon: ROMO TAMBAK
Oleh: Ki Dalang PURBO ASMORO S.Kar, M.Kum dari SOLO
Hari danTanggal: Jum’at, 2 APRIL 2010
Bertempat di: Halaman RuSun MARUNDA, Belakang STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran)
Mulai Pukul: 19.30 WIB – Selesai
Dihadiri oleh: Menteri Pekerjaan Umum, Gubernur DKI Jaya, Walikota JakUt, Ka. Balai Ciliwung – Cisadane, dll.
Jangan sampai dilewatkan! Hadirilah beramai-ramai dengan sanak keluarga. Kami tunggu Anda disana.
Dalam rangka Syukuran BKT (Banjir Kanal Timur) Tembus Laut.
Dengan Lakon: ROMO TAMBAK
Oleh: Ki Dalang PURBO ASMORO S.Kar, M.Kum dari SOLO
Hari danTanggal: Jum’at, 2 APRIL 2010
Bertempat di: Halaman RuSun MARUNDA, Belakang STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran)
Mulai Pukul: 19.30 WIB – Selesai
Dihadiri oleh: Menteri Pekerjaan Umum, Gubernur DKI Jaya, Walikota JakUt, Ka. Balai Ciliwung – Cisadane, dll.
Jangan sampai dilewatkan! Hadirilah beramai-ramai dengan sanak keluarga. Kami tunggu Anda disana.
Radio Garuda Suriname Streaming
Ingin Dengar Radio/TV Wong Jowo di Suriname? Seperti
apa logat bicara saudara kita disana? Di situs ini anda juga bisa
mendengar lagu-lagu Jawa yang dibuat masyarakat Suriname. klik link ini: http://rtv-garuda.com/webplayer.html
Selasa, 02 Maret 2010
Serat Dewa Ruci

Atas perintah bekas gurunya Durna Werkudara berangkat untuk mencari air hidup. Begitu mendengarnya seluruh perhatian Werkudara tertuju paadanya. Tidak ada pertimbangan yang menahanya. Besar tekadnya untuk mendapatkanya. Bersatu tekad hingga berani mati. Tanpa menghiraukan bahaya yang mengancamnya
Ia membongkar hutan Tikrasara terus gunung Candramuka. Raksasa Rukmaka dan Rukmakala terbunuh menjadi sang indra dan sang Bayu kembali ke keindraan. Werkudara menyelam mengarungi samudra ,membunuh naga yang ganas yang bernama Nemburnyawa.
Dalam hal ini Werkudara menjadi perlambang , manusia bertapa(bersemedi), menghilangkan nafsu-nafsu rendah dan memurnikan batinya.ia “mati sajroning urip”dengan tujuan “urip sajroning mati”. Sikap Werkudara adalah sikap sempurna dalam falsafah jawa. Setelah kuku pancanaka merobek robek naga Nemburnyawa dan usahanya tiada hasil. Badan lelah dan membiarkan diri diombang ambing kan alun kesana kemari. Keadaan tampk sepi tenang tidak ada sesuatu lagi yang dikerjakan.akhirnya Werkudara yang gagah berani itu pasrah kepada kodrat yang menentukan.
Kamis, 11 Februari 2010
Sekilas Filosofi Wayang

Seni pewayangan yang merupakan seni pakeliran dengan tokoh utamanya Ki Dalang adalah suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni tatah sungging (seni rupa) dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending/irama gamelan, diwarnai dialog (antawacana), menyajikan lakon dan pitutur/petunjuk hidup manusia dalam falsafah.
Seni pewayangan dapat digelar dalam bentuk Wayang Kulit Purwa, dilatar-belakangi layar/kelir dengan pokok cerita yang sumbernya dari Mahabharata dan Ramayana, berasal dari India. Namun ada juga pagelaran wayang kulit purwa dengan lakon cerita yang di petik dari ajaran Budha, seperti cerita yang berkaitan dengan upacara ruwatan (pensucian diri manusia). Pagelaran wayang kulit purwa biasanya memakan waktu semalam suntuk.
Senin, 28 Desember 2009
Suara-Suara Gaib
Kumpulan pertanyaan dan jawaban yang menyadarkan kita akan hidup kita di dunia, semoga bermanfaat.....
Yudhistira: Silakan ajukan pertanyaanmu
Suara Gaib: Apa yang menyebabkan matahari bersinar tiap hari?
Yudhistira: Kekuatan Brahman
Suara Gaib: Apa yang dapat menolong manusia dari semua marabahaya?
Yudhistira: Silakan ajukan pertanyaanmu
Suara Gaib: Apa yang menyebabkan matahari bersinar tiap hari?
Yudhistira: Kekuatan Brahman
Suara Gaib: Apa yang dapat menolong manusia dari semua marabahaya?
Siasat Perang Supit Urang (sepit udang) yang Tak Terkalahkan
SIASAT perang ini merupakan seekor udang yang menampakan kedua sepitnya. Siasat perangnya menggunakan gerak-gerik yang amat teliti, karena pemimpin selalu mengetahui serangan musuh yang akan dilawan dengan siap sedia. Dengan ketangkasan sepitnya, musuh akan mendapat bahaya. Cara perang dalam Baratayuda Drustadyumna sebagai ujung sepit kanan, Gatotkaca sebagai sepit kiri, Setyaki sebagai mulut, Prabu Darmaputra sebagai kepala, diiringi para Raja pembantu. Abimanyu (Angkawijaya) sebagai sungut, diiring dengan tetabuhan perang dan tempik sorak riuh rendah membangun semangat. Pada perang itu Abimanyu kena tipu hikmat perang Korawa yang menyerupai supit urang, tewaslah Abimanyu dengan mendapat penuh luka, yang dalam peribahasa Jawa disebut: tatu arang kranjang (luka parah sebagai jarang anyaman keranjang). Dikutip dari: 1965, P.N. Balai Pustaka, Sedjarah Wajang Purwa, Pak Hardjowirogo, dengan sedikit perubaan
Selasa, 24 Februari 2009
Tokoh Pewayangan Ajarkan Karakteristik Watak Pria
DUNIA pewayangan (wayang kulit) melalui tokoh-tokohnya sebenarnya memuat banyak simbol dan karakteristik watak manusia. Sejumlah tokoh pewayangan dengan jelas juga merupakan simbol karakteristik pria. Seperti tokoh Arjuna, pria lambang ketampanan, Yudhistira suka perdamaian, Bima adalah pria yang mahal dalam cinta dan tidak gampang tertarik terhadap perempuan.
Berikut adalah beberapa watak dari sejumlah tokoh pewayangan, yang sering dijadikan simbol watak pria, yang disarikan dari pedalangan gagrak Yogyakarta maupun Surakarta.
1. Yudhistira (Sang Ludira Seta)Yudhistira termasuk putra sulung Pandawa, putra dari Dewi Kunthi. Ketika mudanya bernama Puntadewa, raja Amarta. Puntadewa juga terkenal dengan sebutan gelar Sang Ludira Seta yang artinya berdarah putih. Ini melambangkan pria yang tulus ikhlas dalam berbagai hal. Bahkan dalam satu cerita, Puntadewa rela memberikan isteri tercintanya ketika diminta oleh orang lain yang sangat mengagumi dan mencintainya. Yudhistira adalah lambang dari pria yang teguh hati, penyabar dan suka perdamaian. Sangat setia terhadap isteri, anak dan keluarganya. Yudhistira sangat benci terhadap permusuhan. Walaupun bermandi harta, Yudhistira menentang poligami, sehingga isterinya hanyalah satu, Dyah Ayu Drupadi. Ketika muda, Yudhistira gemar berbusana yang indah-indah, tetapi setelah tua dia justru berpenampilan sederhana.
2. Arjuna (Lananging Jagad) Nama Arjuna konon berasal dari kata Jun yang bermakna jambangan. Konon, nama Janaka juga berasal dari Bahasa Arab Jannah yang berarti sorga. Kedua kata tersebut mengandung makna hening atau keheningan. Arjuna memiliki sifat dan watak fitrah, murni. Tak sedikit wanita yang kasmaran kepadanya. Wujud ketampanan Sang Arjuna adalah lambang kehalusan serta keagungan budi seorang pria. Arjuna juga dikenal menyukai sesuatu yang bersifat estetis, asri, sangat sensitif jiwanya, dan lembut hatinya. Sang Arjuna sulit mengucap kata ‘tidak’ dan kata ‘jangan’, khususnya terhadap kaum wanita. Di situlah kelemahan Sang Arjuna, maka tak sedikit wanita yang sangat merindukannya, walau mereka telah bersuami.
3. Kresna (Politikus) Ketika muda, Kresna bernama Narayana. Ia kemudian menjadi raja di Dwarawati. Meskipun secara fisik pria ini berkulit hitam, berdarah hitam dan berdaging hitam, tetapi Kresna tidak ‘hitam’ ulahnya. Kresna adalah lambang pria yang ramah, mudah bergaul, supel, banyak kawan, dan suka bercanda (humor). Ketika memberi fatwa, ia menggunakan berbagai sindiran yang begitu lembut, sehingga yang dinasihati tidak merasa sakit hati. Kresna banyak didatangi sahabat tua-muda dan pria-wanita, untuk sharing atau konsultasi. Umumnya, sepulang dari konsultasi dari Dwarawati, para ‘relasi’ Kresna pulang dengan menggenggam semangat. Kresna memang terkenal sangat strategis dalam menghadapi keluhan para ‘klien’-nya. Kresna memiliki karier yang sulit ditandingi, terlebih di bidang politik. Di mata sesamanya, Kresna memiliki wibawa yang sangat tinggi dan pengaruh yang luar biasa. Dedikasi dan loyalitasnya sangat oke, karena itulah semua anak buah Kresna patuh kepadanya. Dalam rumah tangga, Kresna tidak mengecewakan. Walaupun beristeri tiga orang, Kresna sangat adil. Nasihat yang terkenal dari Kresna kepada para isterinya ialah, agar mereka mengedepankan rasa kemanusiaan dan mengesampingkan busana glamour.
4. Drestharastra (Gagal Membina Isteri) Drestharastra adalah saudara tua dari keluarga Pandawa, bibit darah Pandawa. Ketika Pandhu mangkat, singgasana kerajaan diambil alih oleh Drestharastra, sehingga Pandawa Lima tersingkir. Sebenarnya, Drestharastra memiliki watak agung budi, sabar dan suka mengalah. Tetapi karena terbawa oleh watak isteri tercintanya yang bengis dan ambisius, yang bernama Gandari, maka watak yang sabar, dan suka mengalah tersebut justru dimanfaatkan oleh Sang Gandari, untuk menyetir sang suami, agar sang suami mengikuti seluruh kehendaknya. Drestharastra bisa digambarkan sebagai lambang suami yang terkalahkan dan disetir sang isteri. Maka tidak mustahil jika watak Drestharastra, belakangan berubah. Tak mustahil pula kalau orang-orang yang bekerja pada Drestharastra, jarang yang betah lama, karena Gandari menganggap hina setiap orang yang menghamba kepada Drestharastra. Demikian juga kepada keluarga sang suami. Drestharastra sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Gandari memang cantik, tetapi ia berwatak iri, dengki, semena-mena, dan mudah terhasut. Semua perwatakan itu sangat mempengaruhi watak Drestharastra. Bahkan anak-anak Drestharastra yang berjumlah 100 orang, tak ada satupun yang bisa dijadikan teladan.
5. Bima (Si Mahal Cinta)Keperkasaan pria bernama Bima tentu sudah tidak diragukan lagi. Watak Bima memang sangat jauh dari watak angkuh dan sombong, walau dikaruniai kekuatan yang luar biasa. Bima sangat tinggi rasa sayangnya terhadap orang tua dan saudara. Bima juga terkenal jujur kalau berbicara, bahkan tidak pernah berbohong. Namun Bima kurang suka sesuatu yang bersifat formal. Sang Bima selalu bersikap teguh memegang prisip, tidak gampang terhasut atau dipengaruhi dengan apapun, walau si penghasut mempergunakan berbagai jurus dan cara. Bima juga memiliki tenggang rasa yang sangat dalam terhadap siapapun, sehingga ia akan serta-merta memberi pertolongan kepada siapapun yang sedang dilanda musibah dan kesusahan. Ia juga sangat kuat berpegang pada sariat agama dan paugeran kenegaraan. Bima adalah sosok patriotis yang selalu setia kepada lingkungannya dan negerinya sendiri. Dalam komunikasi sosial, Bima dikenal sangat menghormati kaum wanita. Bima juga bukan tipe pria ‘mata keranjang’. Ketika dia tertarik dan memperisteri Dewi Arimbi, semata-mata ia tertarik pada keluhuran budi dan keagungan sang Dyah Ayu.
6. Durna (Paranormal Pengeruk Keuntungan) Ketika mudanya, Durna bernama Bambang Kumbayana. Waktu itu Resi Durna begitu tampan dan ganteng. Bambang Kumbayana selalu berbusana mewah, sehingga penampilannya sangat meyakinkan. Tetapi karena wataknya yang hadigang-hadigung, maka wajahnya berubah menjadi tidak karuwan setelah dihajar habis-habisan oleh musuhnya. Resi Durna memang selalu berkostum jubah paranormal (Jw: Pandhita), tetapi perilakunya sangat nista dan hina. Durna dikenal dengan watak ‘bermuka dua’. Pria yang tidak berpendirian kuat dan penuh prasangka buruk, walau ia mengklaim dirinya sebagai ‘paranormal’. Durna juga dikenal sangat suka mendatangi para muridnya, karena di sana akan dihormati oleh murid-murid dan keluarganya. Semua kebutuhannya disediakan, bahkan kadang ia minta dijemput oleh para Korawa. Di balik jubahnya itu, Durna justru tega memanfaatkan setiap orang yang minta pertolongan, untuk kepentingan Durna sendiri. Bahkan ia tega memanfaatkan kesusahan ‘klien’-nya untuk kesenangan pribadi Durna sendiri. Meskipun demikian Durna sering bercerita tentang keberhasilannya dalam menolong sesama, sehingga para tamunya terbius oleh bujukannya. Ia madeg sebagai paranormal, memang hanya untuk mengeruk keuntungan. Namun resminya, Durna adalah penasihat spiritual Astina dan Pandawa.
7. Semar (Pembantu Bijaksana) Jika pembaca adalah wanita, dan bersuamikan seorang pria yang sangat pandai mengasuh dan amat bijaksana, itu berarti tak jauh berbeda dengan karakteristik Sang Semar. Walau hanya seorang punakawan, sebenarnya Semar adalah turunan dari bangsawan, bahkan saudara Sang Hyang Guru Nata (dewa dari seluruh dewa) di Kahyangan. Walaupun Semar dikenal sebagai orang papa, ia memiliki insting yang sangat tajam, intuitif, dan memiliki watak kedewaan. Semar senantiasa adil dan bijak dalam memutuskan setiap masalah atau perkara. Bila diperintah menumpas keangkaramurkaan, Semar akan memperlihatkan kesejatian dirinya. Akan tetapi dalam keseharian, Semar selalu berpenampilan sebagai sosok titah sawantah belaka. Isteri Semar adalah Dewi Kanistri, yang selalu ditinggal pergi karena panggilan tugas mulia sang suami dalam menghamba kepada pemimpin dan bangsanya. Kehidupan keluarga Semar lebih mengedepankan lakutama daripada gemerlap duniawi.
8. Baladewa (Mudah Marah, Mudah Memaafkan) Waktu mudanya, Baladewa bernama Raden Kakrasana, kakak Prabu Kresna. Baladewa berkulit putih kemerahan seperti turis (bule). Ia adalah lambang pria yang suka bersemedi, suka pati raga dan tirakat. Ia lebih banyak berkecimpung di dalam dunia ilmu ghaib. Waktu yang lain dimanfaatkan untuk berkiprah di bidang olah kaprajan, juga menempa strategi berperang. Baladewa memiliki watak sangat menyayangi keluarganya, terlebih kepada saudara perempuannya, Dyah Ayu Sembadra. Kemanapun pergi, Sembadra senantiasa dalam pengawalan Baladewa. Karakter yang menonjol dari Baladewa adalah mudah marah tapi juga mudah memberi maaf kembali. Hubungan kekeluargaan dengan Pandawa memang sedikit renggang, karena Baladewa banyak bermukim di Astina. Tetapi Baladewa juga serta-merta hijrah dari Astina, setelah mengetahui bahwa keluarga Astina telah melenceng dari kesepakatan dan pesan para leluhur. Baladewa bisa dilambangkan sebagai gambaran sosok pria yang setiap bertindak selalu serampangan, tanpa dipikir panjang terlebih dahulu, akhirnya justru malu sendiri setelah ketahuan kekeliruannya. Kelebihan lain dari Baladewa adalah berani mengakui secara jantan atas kekeliruan dan kekhilafannya.
oleh: Soegiyono MS, Guru SMP Muhammadiyah 1 Wates Kulonprogo, anggota Sanggar Seni Sastra Kulonprogo
( sumber: Kedaulatan Rakyat, 26/05/2008 dan http://www.untukku.com/artikel-untukku/tokoh-pewayangan-ajarkan-karakteristik-watak-pria-untukku.html )
Berikut adalah beberapa watak dari sejumlah tokoh pewayangan, yang sering dijadikan simbol watak pria, yang disarikan dari pedalangan gagrak Yogyakarta maupun Surakarta.
1. Yudhistira (Sang Ludira Seta)Yudhistira termasuk putra sulung Pandawa, putra dari Dewi Kunthi. Ketika mudanya bernama Puntadewa, raja Amarta. Puntadewa juga terkenal dengan sebutan gelar Sang Ludira Seta yang artinya berdarah putih. Ini melambangkan pria yang tulus ikhlas dalam berbagai hal. Bahkan dalam satu cerita, Puntadewa rela memberikan isteri tercintanya ketika diminta oleh orang lain yang sangat mengagumi dan mencintainya. Yudhistira adalah lambang dari pria yang teguh hati, penyabar dan suka perdamaian. Sangat setia terhadap isteri, anak dan keluarganya. Yudhistira sangat benci terhadap permusuhan. Walaupun bermandi harta, Yudhistira menentang poligami, sehingga isterinya hanyalah satu, Dyah Ayu Drupadi. Ketika muda, Yudhistira gemar berbusana yang indah-indah, tetapi setelah tua dia justru berpenampilan sederhana.
2. Arjuna (Lananging Jagad) Nama Arjuna konon berasal dari kata Jun yang bermakna jambangan. Konon, nama Janaka juga berasal dari Bahasa Arab Jannah yang berarti sorga. Kedua kata tersebut mengandung makna hening atau keheningan. Arjuna memiliki sifat dan watak fitrah, murni. Tak sedikit wanita yang kasmaran kepadanya. Wujud ketampanan Sang Arjuna adalah lambang kehalusan serta keagungan budi seorang pria. Arjuna juga dikenal menyukai sesuatu yang bersifat estetis, asri, sangat sensitif jiwanya, dan lembut hatinya. Sang Arjuna sulit mengucap kata ‘tidak’ dan kata ‘jangan’, khususnya terhadap kaum wanita. Di situlah kelemahan Sang Arjuna, maka tak sedikit wanita yang sangat merindukannya, walau mereka telah bersuami.
3. Kresna (Politikus) Ketika muda, Kresna bernama Narayana. Ia kemudian menjadi raja di Dwarawati. Meskipun secara fisik pria ini berkulit hitam, berdarah hitam dan berdaging hitam, tetapi Kresna tidak ‘hitam’ ulahnya. Kresna adalah lambang pria yang ramah, mudah bergaul, supel, banyak kawan, dan suka bercanda (humor). Ketika memberi fatwa, ia menggunakan berbagai sindiran yang begitu lembut, sehingga yang dinasihati tidak merasa sakit hati. Kresna banyak didatangi sahabat tua-muda dan pria-wanita, untuk sharing atau konsultasi. Umumnya, sepulang dari konsultasi dari Dwarawati, para ‘relasi’ Kresna pulang dengan menggenggam semangat. Kresna memang terkenal sangat strategis dalam menghadapi keluhan para ‘klien’-nya. Kresna memiliki karier yang sulit ditandingi, terlebih di bidang politik. Di mata sesamanya, Kresna memiliki wibawa yang sangat tinggi dan pengaruh yang luar biasa. Dedikasi dan loyalitasnya sangat oke, karena itulah semua anak buah Kresna patuh kepadanya. Dalam rumah tangga, Kresna tidak mengecewakan. Walaupun beristeri tiga orang, Kresna sangat adil. Nasihat yang terkenal dari Kresna kepada para isterinya ialah, agar mereka mengedepankan rasa kemanusiaan dan mengesampingkan busana glamour.
4. Drestharastra (Gagal Membina Isteri) Drestharastra adalah saudara tua dari keluarga Pandawa, bibit darah Pandawa. Ketika Pandhu mangkat, singgasana kerajaan diambil alih oleh Drestharastra, sehingga Pandawa Lima tersingkir. Sebenarnya, Drestharastra memiliki watak agung budi, sabar dan suka mengalah. Tetapi karena terbawa oleh watak isteri tercintanya yang bengis dan ambisius, yang bernama Gandari, maka watak yang sabar, dan suka mengalah tersebut justru dimanfaatkan oleh Sang Gandari, untuk menyetir sang suami, agar sang suami mengikuti seluruh kehendaknya. Drestharastra bisa digambarkan sebagai lambang suami yang terkalahkan dan disetir sang isteri. Maka tidak mustahil jika watak Drestharastra, belakangan berubah. Tak mustahil pula kalau orang-orang yang bekerja pada Drestharastra, jarang yang betah lama, karena Gandari menganggap hina setiap orang yang menghamba kepada Drestharastra. Demikian juga kepada keluarga sang suami. Drestharastra sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Gandari memang cantik, tetapi ia berwatak iri, dengki, semena-mena, dan mudah terhasut. Semua perwatakan itu sangat mempengaruhi watak Drestharastra. Bahkan anak-anak Drestharastra yang berjumlah 100 orang, tak ada satupun yang bisa dijadikan teladan.
5. Bima (Si Mahal Cinta)Keperkasaan pria bernama Bima tentu sudah tidak diragukan lagi. Watak Bima memang sangat jauh dari watak angkuh dan sombong, walau dikaruniai kekuatan yang luar biasa. Bima sangat tinggi rasa sayangnya terhadap orang tua dan saudara. Bima juga terkenal jujur kalau berbicara, bahkan tidak pernah berbohong. Namun Bima kurang suka sesuatu yang bersifat formal. Sang Bima selalu bersikap teguh memegang prisip, tidak gampang terhasut atau dipengaruhi dengan apapun, walau si penghasut mempergunakan berbagai jurus dan cara. Bima juga memiliki tenggang rasa yang sangat dalam terhadap siapapun, sehingga ia akan serta-merta memberi pertolongan kepada siapapun yang sedang dilanda musibah dan kesusahan. Ia juga sangat kuat berpegang pada sariat agama dan paugeran kenegaraan. Bima adalah sosok patriotis yang selalu setia kepada lingkungannya dan negerinya sendiri. Dalam komunikasi sosial, Bima dikenal sangat menghormati kaum wanita. Bima juga bukan tipe pria ‘mata keranjang’. Ketika dia tertarik dan memperisteri Dewi Arimbi, semata-mata ia tertarik pada keluhuran budi dan keagungan sang Dyah Ayu.
6. Durna (Paranormal Pengeruk Keuntungan) Ketika mudanya, Durna bernama Bambang Kumbayana. Waktu itu Resi Durna begitu tampan dan ganteng. Bambang Kumbayana selalu berbusana mewah, sehingga penampilannya sangat meyakinkan. Tetapi karena wataknya yang hadigang-hadigung, maka wajahnya berubah menjadi tidak karuwan setelah dihajar habis-habisan oleh musuhnya. Resi Durna memang selalu berkostum jubah paranormal (Jw: Pandhita), tetapi perilakunya sangat nista dan hina. Durna dikenal dengan watak ‘bermuka dua’. Pria yang tidak berpendirian kuat dan penuh prasangka buruk, walau ia mengklaim dirinya sebagai ‘paranormal’. Durna juga dikenal sangat suka mendatangi para muridnya, karena di sana akan dihormati oleh murid-murid dan keluarganya. Semua kebutuhannya disediakan, bahkan kadang ia minta dijemput oleh para Korawa. Di balik jubahnya itu, Durna justru tega memanfaatkan setiap orang yang minta pertolongan, untuk kepentingan Durna sendiri. Bahkan ia tega memanfaatkan kesusahan ‘klien’-nya untuk kesenangan pribadi Durna sendiri. Meskipun demikian Durna sering bercerita tentang keberhasilannya dalam menolong sesama, sehingga para tamunya terbius oleh bujukannya. Ia madeg sebagai paranormal, memang hanya untuk mengeruk keuntungan. Namun resminya, Durna adalah penasihat spiritual Astina dan Pandawa.
7. Semar (Pembantu Bijaksana) Jika pembaca adalah wanita, dan bersuamikan seorang pria yang sangat pandai mengasuh dan amat bijaksana, itu berarti tak jauh berbeda dengan karakteristik Sang Semar. Walau hanya seorang punakawan, sebenarnya Semar adalah turunan dari bangsawan, bahkan saudara Sang Hyang Guru Nata (dewa dari seluruh dewa) di Kahyangan. Walaupun Semar dikenal sebagai orang papa, ia memiliki insting yang sangat tajam, intuitif, dan memiliki watak kedewaan. Semar senantiasa adil dan bijak dalam memutuskan setiap masalah atau perkara. Bila diperintah menumpas keangkaramurkaan, Semar akan memperlihatkan kesejatian dirinya. Akan tetapi dalam keseharian, Semar selalu berpenampilan sebagai sosok titah sawantah belaka. Isteri Semar adalah Dewi Kanistri, yang selalu ditinggal pergi karena panggilan tugas mulia sang suami dalam menghamba kepada pemimpin dan bangsanya. Kehidupan keluarga Semar lebih mengedepankan lakutama daripada gemerlap duniawi.
8. Baladewa (Mudah Marah, Mudah Memaafkan) Waktu mudanya, Baladewa bernama Raden Kakrasana, kakak Prabu Kresna. Baladewa berkulit putih kemerahan seperti turis (bule). Ia adalah lambang pria yang suka bersemedi, suka pati raga dan tirakat. Ia lebih banyak berkecimpung di dalam dunia ilmu ghaib. Waktu yang lain dimanfaatkan untuk berkiprah di bidang olah kaprajan, juga menempa strategi berperang. Baladewa memiliki watak sangat menyayangi keluarganya, terlebih kepada saudara perempuannya, Dyah Ayu Sembadra. Kemanapun pergi, Sembadra senantiasa dalam pengawalan Baladewa. Karakter yang menonjol dari Baladewa adalah mudah marah tapi juga mudah memberi maaf kembali. Hubungan kekeluargaan dengan Pandawa memang sedikit renggang, karena Baladewa banyak bermukim di Astina. Tetapi Baladewa juga serta-merta hijrah dari Astina, setelah mengetahui bahwa keluarga Astina telah melenceng dari kesepakatan dan pesan para leluhur. Baladewa bisa dilambangkan sebagai gambaran sosok pria yang setiap bertindak selalu serampangan, tanpa dipikir panjang terlebih dahulu, akhirnya justru malu sendiri setelah ketahuan kekeliruannya. Kelebihan lain dari Baladewa adalah berani mengakui secara jantan atas kekeliruan dan kekhilafannya.
oleh: Soegiyono MS, Guru SMP Muhammadiyah 1 Wates Kulonprogo, anggota Sanggar Seni Sastra Kulonprogo
( sumber: Kedaulatan Rakyat, 26/05/2008 dan http://www.untukku.com/artikel-untukku/tokoh-pewayangan-ajarkan-karakteristik-watak-pria-untukku.html )
Kamis, 19 Februari 2009
Jumat, 21 November 2008
Wayang
Wayang adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai wayang orang, dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana.
Kadangkala repertoar cerita Panji dan cerita Menak (cerita-cerita Islam) dipentaskan pula.
Wayang, oleh para pendahulu negri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)".
Jenis-jenis wayang
Wayang Kulit
Wayang Purwa
Wayang Madya
Wayang Gedog
Wayang Dupara
Wayang Wahyu
Wayang Suluh
Wayang Kancil
Wayang Calonarang
Wayang Krucil
Wayang Ajen
Wayang Sasak
Wayang Sadat
Wayang Parwa
Wayang Kayu
Wayang Golek / Wayang Thengul (Bojonegoro)
Wayang Menak
Wayang Papak / Wayang Cepak
Wayang Klithik
Wayang Beber
Wayang Orang
Wayang Suket
Jenis-jenis wayang kulit menurut asal daerah atau suku
Wayang juga ada yang menggunakan bahasa Melayu Lokal seperti bahasa Betawi, bahasa Palembang dan bahasa Banjar.
Wayang Jawa Yogyakarta
Wayang Jawa Surakarta
Wayang Kulit Gagrag Banyumasan
Wayang Bali
Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan)
Wayang Palembang (Sumatera Selatan)
Wayang Betawi (Jakarta)
Wayang Cirebon (Jawa Barat)
Wayang Madura (sudah punah)
Wayang Siam
Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai wayang orang, dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana.
Kadangkala repertoar cerita Panji dan cerita Menak (cerita-cerita Islam) dipentaskan pula.Wayang, oleh para pendahulu negri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)".
Jenis-jenis wayang
Wayang Kulit
Wayang Purwa
Wayang Madya
Wayang Gedog
Wayang Dupara
Wayang Wahyu
Wayang Suluh
Wayang Kancil
Wayang Calonarang
Wayang Krucil
Wayang Ajen
Wayang Sasak
Wayang Sadat
Wayang Parwa
Wayang Kayu
Wayang Golek / Wayang Thengul (Bojonegoro)
Wayang Menak
Wayang Papak / Wayang Cepak
Wayang Klithik
Wayang Beber
Wayang Orang
Wayang Suket
Jenis-jenis wayang kulit menurut asal daerah atau suku
Wayang juga ada yang menggunakan bahasa Melayu Lokal seperti bahasa Betawi, bahasa Palembang dan bahasa Banjar.
Wayang Jawa Yogyakarta
Wayang Jawa Surakarta
Wayang Kulit Gagrag Banyumasan
Wayang Bali
Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan)
Wayang Palembang (Sumatera Selatan)
Wayang Betawi (Jakarta)
Wayang Cirebon (Jawa Barat)
Wayang Madura (sudah punah)
Wayang Siam
(Disadur dari Wikipedia)
Minggu, 19 Oktober 2008
Antareja
ANTAREJA terkadang disebut Anantareja, anak sulung Bima dengan Dewi Nagagini. Antareja tidak tinggal bersama ayahnya, melainkan tetap di Kayangan Saptapratala bersama kakeknya, Hyang Antaboga dan ibunya. Kesaktian Antareja luar biasa. Semburan ludahnya yang mengandung bisa, akan mematikan siapa saja yang terkena. Bahkan tanah bekas telapak kaki orang yang dijilatnya pun akan menyebabkan si empunya tapak akan meninggal seketika
Sabtu, 02 Agustus 2008
Batara Guru
Berdasarkan hasil polling kemarin, ternyata pemenangnya adalah Batara Guru. Sesuai dengan janji saya, saya akan menuliskan kisah tentang Batara Guru, ini dia....
Batara Guru
tah khayangan, yaitu alam yang dihuni para dewa. Dalam seni kriya Wayang Kulit
Purwa, Batara Guru dilukiskan bertangan empat, bertaring kecil, berleher biru, ka-
kinya apus (semacam penyakit polio), dan hampir selalu mengendarai lembu andini.
Ayah Batara Guru bernama Sang Hyang Tunggal. Ibunya bernama Dewi Rekatawi. Suatu saat Dewi Rekatami melahirkan anak berujud telur bercahaya terang. Dengan kesaktian yang dimilikinya Hyang Tunggal mengubah ujud telur itu. Kulit relurnya berubah ujud menjadi Hyang Maha Punggung, ia dianggap anak sulung. Putih telurnya diubah menjadi Hyang Ismaya (Semar)
, ia dianggap anak kedua. Sedangkan kuning telurnya menjadi
, ia dianggap anak kedua. Sedangkan kuning telurnya menjadiHyang Manikmaya (Batara Guru), dianggap sebagai anak ketiga. Kedua kakaknya diberi tugas menjadi pamong di dunia, sedangkan Sang Hyang
Manikmaya bertugas mengepalai para dewa di khayangan.
Bagi penganut agama Hindu Batara Guru adalah sebutan lain Batara Siwa.
Sedangkan menurut wayang kulit purwa, Batara Guru sering dieri kesan berbeda
dengan Batara Siwa. Lagi pula, sebagai salah satu tokoh wayang, walaupun tergolong dewa, Batara Guru bukanlah makhluk yang sempurna. Seperti juga manusia, dan dewa lainnya, ia pun sering berbuat salah. Dalam berbagai lakon Wayang Purwa, Batara Guru diceritakan beberapa kali tidak dapat mengendalikan nafsu birahinya, amarah, dan dendamnya.


Kamis, 01 Mei 2008
Pandawa Lima
PANDAWA sebutan bagi kelima orang anak Pandu Dewanata
.
-Yudhistira/Puntadewa
. Kelima orang Pandawa itu adalah :
-Yudhistira/Puntadewa
-Bima/Werkudara
-Arjuna/Janaka
-Nakula
-Sadewa
Pandawa dianggap musuh oleh para Kurawa (anak-anak Destarata). Dalam berbagai mata pelajaran Pandawa selalu lebih unggul daripada para Kurawa. Pada ilmu kesastraan dan ketatanegaraan, misalnya, Puntadewa selalu lebih unggul. Soal adu tenaga dan keterampilan memainkan gada, Bima tidak tertandingi. Sedangkan dalam keterampilan memainkan panah dan pedang, Arjuna paling jago. Nakula dan Sadewa pada waktu itu masih kecil, belum banyak berperan. Di antara Pandawa dan Kurawa, Bima adalah anak yang paling besar tubuhnya dan paling kuat tenaganya. Di hari tuanya, kelima Pandawa menyongsong saat kematiannya dengan sadar. Mereka mendaki Gunung Himalaya untuk menyongsong ajal, diikuti oleh seekor anjing berbulu putih. Yang pertama dijemput oleh Batara Yamadipati, dewa kematian adalah Dewi Drupadi (istri para Pandawa). Setelah itu Sadewa, kemudian Nakula, Arjuna, dan Bima. Puntadewa tidak menemui ajalnya. Sampai perjalanannya mencapai pintu surga, ia dijemput oleh Batara Endra. Namun sewaktu Batara Endra melarang seekor anjing putih yang hendak masuk, Puntadewa menolak ajakan Batara Endra masuk ke surga, katanya: "Jikalau sorga tidak menghargai kesetiaan, meskipun kesetiaan itu diperlihatkan oleh seekor anjing, sebaiknya hamba tidak usah masuk ke sorga yang demikian".
Seketika itu juga anjing tersebut berubah ujud menjadi Batara Dharma, ayah Puntadewa yang sebenarnya. Dalam pewayangan, Semar dan anak-anaknya amat dominan dalam mengasuh para Pandawa. Banyak lakon-lakon pewayangan yang mengisahkan kemenangan para Pandawa, karena mereka mendengarkan nasihat dan petuah Ki Lurah Semar.
NB: Jika anda ingin menambahkan artikel ini, saya sangat menerimanya. Artikel tambahan dapat ditambahkan pada kolom komentar.
Jumat, 15 Februari 2008
Wayang Kulit

Wayang kulit ? Ya, sekarang memang sudah jarang orang yang peduli pada kesenian tradisional yang satu itu. Saya kebetulan pecinta wayang kulit dan tertarik pada kesenian ini, dan juga saya memiliki wayang kulit. Saya memiliki beberapa website tentang wayang, bagi yang beminat untuk melihat websitenya silahkan klik di :
Jika ada salah satu pembaca memiliki website tentang wayang kulit, silahkan ketik di kolom komentar di bawah ini. Disini kita juga bisa berbagi cerita / sharing soal wayang kulit dan pernak-perniknya. Bagi pembaca yang tinggal di Jakarta dan kebingungan untuk mencari tempat di mana menjual komik-komik wayang, saya kebetulan mempunyai alamatnya yaitu di :
- Plaza Semanggi Lt.2 Vindo Comics- ITC Fatmawati Lt.1 Vindo Comics
Di sana terdapat berbagai pernak-pernik wayang yang dijual dengan harga cukup tejangkau.
Ditunggu ya cing informasinya......
Yudhistira
( Tolong beri komentar tentang posting ini )
( Tolong beri komentar tentang posting ini )
Langganan:
Postingan (Atom)
Kritik, Saran, dan Keluhan
adhis_96@yahoo.co.id
adhis_96@yahoo.co.id

Penggemar Wayang by Situs Penggemar Wayang is licensed under a Creative Commons Attribution-No Derivative Works 3.0 Unported License.






