<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240</id><updated>2012-02-17T06:29:54.473+07:00</updated><category term='siasat'/><category term='gamelan'/><category term='filosofi'/><category term='Wayang Kulit'/><category term='nilai kehidupan'/><category term='pentas'/><category term='Lakon'/><category term='Tokoh Wayang Kulit'/><category term='jawa'/><title type='text'>Situs Resmi Penggemar Wayang</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-7324046615537968635</id><published>2010-04-23T18:27:00.003+07:00</published><updated>2010-04-29T06:27:43.332+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filosofi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa'/><title type='text'>Hasta Brata, Filosofi Kepemimpinan Jawa</title><content type='html'>Etika Kepemimpinan dalam masyarakat Jawa dikenal dengan istilah “Hasta Brata”. Istilah ini diambil dari buku Ramayana karya Yasadipura I yang hidup pada akhir abad ke-18 (1729-1803 M) di keraton Surakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologis, “hasta” artinya delapan, sedangkan “Brata” artinya langkah. Secara terminologis berarti delapan langkah yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam mengemban misi kepemimpinannya. Langkah-langkah tersebut mencontoh delapan watak dari benda-benda di alam yakni Bumi, Matahari, Bulan. Bintang, Api, Angin, laut, dan Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bumi, wataknya adalah ajeg. Sifatnya yang tegas, konstan, konsisten, dan apa adanya. Bumi menawarkan kesejahteraan bagi seluruh mahkluk hidup yang ada di atasnya. Tidak pandang bulu, tidak pilih kasih, dan tidak membeda-bedakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Matahari selalu memberi penerangan (di kala siang), kehangatan, serta energi yang merata di seluruh pelosok bumi. Energi dari cahaya matahari juga merupakan sumber energi dari &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;seluruh kehidupan di muka bumi. Pemimpin juga harus memberi semangat, membangkitkan motivasi dan memberi kemanfaatan pengetahuan bagi orang-orang yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bulan mungkin lebih berguna daripada matahari. Karena dibandingkan matahari, bulan memberi penerangan saat gelap dengan cahaya yang sejuk dan tidak menyilaukan. Pemimpin yang berwatak bulan memberi kesempatan di kala gelap, memberi kehangatan di kala susah, memberi solusi saat masalah dan menjadi penengah di tengah konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bintang adalah penunjuk arah yang indah. Seorang pemimpin harus berwatak bintang dalam artian harus mampu menjadi panutan dan memberi petunjuk bagi orang yang dipimpinnya. Pendirian yang teguh karena tidak pernah berpindah bisa menjadi pedoman arah dalam melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Api bersifat membakar. Artinya seorang pemimpin harus mampu membakar jika diperlukan. Jika terdapat resiko yang mungkin bisa merusak organisasi, kemampuan untuk merusak dan menghancurkan resiko tersebut sangat membantu untuk kelangsungan oraganisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Angin adalah udara yang bergerak. Maksudnya kalau udara itu ada di mana saja. Dan angin itu ringan bergerak ke mana aja. Jadi pemimpin itu, meskipun mungkin kehadiran seorang pemimpin tidak disadari, namun ada dimanapun dia dibutuhkan. Pemimpin juga tak pernah lelah bergerak dalam mengawasi orang yang dipimpinnya. Memastikan baik-baik saja dan tidak hanya mengandalkan laporan yang bisa saja direkayasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Laut atau samudra yang lapang, luas, menjadi muara dari banyak aliran sungai. Artinya seorang pemimpin mesti bersifat lapang dada dalam menerima banyak masalah dari anak buah. Menyikapi keanekaragaman anak buah sebagai hal yang wajar dan menanggapi dengan kacamata dan hati yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Air mengalir sampai jauh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Meskipun wadahnya berbeda-beda, air selalu mempunyai permukaan yang datar. Artinya, pemimpin harus berwatak ait yang berprinsip keadilan dan sama rata, kesamaan derajat dan kedudukan. Selain itu, sifat dasar air adalah menyucikan. Pemimpn harus bersih dan mampu membersihkan diri dan lingkungannya dari hal yang kotor dan mengotori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan watak benda-benda alam ini mampu menjadi contoh bagi seorang pemimpin dalam mengomando orang-orang yang dimpimpinnya menuju tujuan organisasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-7324046615537968635?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/7324046615537968635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/04/hasta-brata-filosofi-kepemimpinan-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/7324046615537968635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/7324046615537968635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/04/hasta-brata-filosofi-kepemimpinan-jawa.html' title='Hasta Brata, Filosofi Kepemimpinan Jawa'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-1437166879183614589</id><published>2010-04-16T17:28:00.002+07:00</published><updated>2010-05-04T16:56:18.889+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pentas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filosofi'/><title type='text'>“DOSA” PANITIA PENTAS WAYANG KULIT</title><content type='html'>&lt;i&gt;Artikel ini sangat menarik dan memiliki banyak filosofinya, untuk menyadarkan kita semua. Terima kasih untuk pak mBilung Sarawita yang memberi izin untuk memuat artikel beliau di blog ini. Berikut artikelnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“DOSA” PANITIA PENTAS WAYANG KULIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis:&lt;br /&gt;Condro Bawono&lt;br /&gt;penggemar pentas wayang kulit, tinggal di Kota Magelang&lt;br /&gt;mbilung_sarawita@yahoo.com&lt;br /&gt;mbilung@javacity.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_t0xmV-lI/AAAAAAAAASM/SZ6R9F0bKJA/s1600/foto04.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_t0xmV-lI/AAAAAAAAASM/SZ6R9F0bKJA/s320/foto04.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Keberhasilan suatu pagelaran wayang kulit semalam suntuk dapat diukur dari proporsi antara jumlah penonton sebelum babak “gara-gara” dengan jumlah penonton sesudah babak “gara-gara”. Dari banyak pertunjukan wayang kulit yang pernah penulis tonton, hanya beberapa kali penulis melihat jumlah penonton bisa dipertahankan sampai pagi. Pada kebanyakan kasus, setelah babak “gara-gara” selesai, sebagian besar penonton meninggalkan lokasi pentas dan tidak kembali lagi. Bahkan, tidak jarang terjadi, sebelum babak “gara-gara” pun, ketika pertunjukan baru berjalan satu-dua jam, banyak penonton sudah mulai meninggalkan lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini cukup memprihatinkan, mengingat bahwa sesungguhnya justru di babak pasca “gara-gara” itulah berbagai pertanyaan, persoalan dan misteri yang disajikan oleh sang dalang selama babak pra “gara-gara” menjadi terjawab, terselesaikan dan terungkap. Para penonton tidak menikmati satu lakon wayang secara utuh. Nilai-nilai adiluhung dan ajaran kebajikan yang “dibawa pulang” oleh para penonton menjadi tidak lengkap pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengamatan penulis, keadaan itu terjadi bukan semata-mata karena faktor kualitas dan popularitas dalang. Kalau cuma karena faktor dalangnya tidak populer, tentunya jumlah penonton sudah sedikit sejak awal pertunjukan. Tetapi yang penulis prihatinkan sering terjadi&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;adalah: Dalangnya populer, niyaga-waranggana-wiraswar&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;anya berkualitas baik, namun sebagian besar penontonnya tidak betah menonton sampai pertunjukan selesai. Terhadap fenomena ini, penulis telah menemukan “biang kerok”nya, yaitu adanya “dosa-dosa” yang dilakukan oleh banyak panitia pentas wayang kulit.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_upAhOvPI/AAAAAAAAASk/AwGSug99y_s/s1600/foto07.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_upAhOvPI/AAAAAAAAASk/AwGSug99y_s/s320/foto07.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOSA UTAMA: Diskriminasi Berlebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskriminasi berlebihan dalam pengaturan lokasi penonton merupakan “dosa utama” yang sering dilakukan oleh panitia pentas wayang kulit. Para penonton “undangan” (pejabat, keluarga pejabat dan orang-orang “terhormat”) dipersilahkan duduk manis di kursi-kursi empuk di bagian depan. Para penonton “tak diundang” dibiarkan berdiri berjubel-jubel di bagian belakang. Padahal, jumlah penonton “tak diundang” ini jauh lebih besar daripada jumlah penonton “undangan”. Bahkan, beberapa kali penulis melihat dipasangnya pagar-keliling yang memisahkan secara kaku antara lokasi penonton “terhormat” dengan lokasi penonton “tak terhormat”, lengkap dengan sejumlah petugas keamanan berseragam yang menjaga “perbatasan” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_uJdpImaI/AAAAAAAAASU/dxVE2mfEGuU/s1600/foto09.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_uJdpImaI/AAAAAAAAASU/dxVE2mfEGuU/s320/foto09.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Para penonton “terhormat” bisa mengarahkan pandangan mata ke arah layar secara leluasa. Kalau mengantuk, mereka tak perlu repot meninggalkan lokasi, karena cukup dengan menyandarkan kepala di kursi masing-masing mereka sudah bisa memejamkan mata dengan nyaman. Panitia juga sudah menghidangkan minuman dan makanan, sehingga para “beliau” tidak perlu beranjak dari “singgasana” di kala haus atau lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi sangat kontras terjadi di lokasi penonton “tak terhormat”. Karena berdiri berjubel-jubel, pandangan mata ke arah layar menjadi sangat tidak leluasa. Penonton di baris kedua, ketiga dan seterusnya seringkali terpaksa “menyesuaikan kemiringan leher” manakala penonton di baris depannya mengubah “gaya berdiri”. Penonton yang bertubuh lebih pendek harus berjuang lebih keras. Mereka terpaksa berdiri dengan ujung kaki (“jinjit”) dan menjulur-julurkan leher (“ndhangak”) ketika di panggung sedang disajikan adegan atraktif. Bisa dibayangkan betapa sering perjuangan “jinjit” sekaligus “ndhangak” itu dilakukan kalau dalangnya adalah dalang top yang piawai memainkan adegan-adegan atraktif. Penonton yang mengajak anak-kecil malah harus memanggul dengan leher (“munji”) supaya sang anak bisa melihat ke arah layar dan tidak rewel. Keadaan inilah yang menyebabkan stamina para penonton “jelata” cepat menurun. Jika sudah lelah, mereka terpaksa meninggalkan lokasi-berdiri untuk beristirahat. Celakanya, sesudah sembuh dari letih, ketika hendak kembali ke tempat semula, tempat itu sudah “diserobot” orang lain. Akibatnya, orang “jelata” yang stamina tubuhnya “kalah fit” harus rela “tersingkir” ke baris paling belakang, atau: pulang awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_uaRyVhyI/AAAAAAAAASc/2C2PpjAPkCg/s1600/foto06.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_uaRyVhyI/AAAAAAAAASc/2C2PpjAPkCg/s320/foto06.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Saat mengantuk, penonton “jelata” tidak punya tempat untuk menyandarkan kepala. Pilihan praktis yang sering diambil adalah : pulang saja, walau dengan kecewa karena terlalu cepat berpisah dengan dalang favoritnya. Barangkali penonton ini berandai-andai : “Kalau saja aku duduk di kursi itu, mungkin aku bisa tidur barang satu jam, lantas bangun, nonton lagi sampai selesai …”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat haus, jika rasa haus itu masih “bisa ditahan”, mereka akan “berjuang” untuk tetap di tempat, supaya tempat-berdiri itu tidak “diserobot” orang lain. Bila tenggorokan sudah kering, terpaksalah mereka keluar dari arena “suksukan” untuk membeli minuman. Ketika kembali menonton, mereka musti rela berdiri di belakang. Kalau kecewa, apalagi bila tubuh pendek, pulanglah mereka lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu ironi yang mestinya membuat pilu hati kita. Sesungguhnya sebutan “penonton tak diundang” tidaklah selalu tepat untuk mewakili kelompok penonton “jelata” dan “tak terhormat” itu. Sebab, kedatangan mereka ke lokasi pentas pun karena adanya “undangan massal” dari panitia, misalnya melalui spanduk, radio, poster, selebaran, sampai publikasi dengan loudspeaker yang diangkut mobil-keliling. Semestinyalah para panitia bersikap konsekuen dan bertanggungjawab atas akibat dari “undangan massal” yang mereka buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi Utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kalau panitia pentas wayang kulit mau sedikit bijak, fenomena memilukan itu tak perlu terjadi. Penulis memperhatikan, para penonton “tak diundang” itu kebanyakan adalah orang-orang sederhana yang tidak menuntut pelayanan berlebihan. Cukuplah bagi mereka kalau sudah bisa melihat ke arah layar secara lumayan leluasa. Apabila meninggalkan tempat untuk suatu keperluan (membeli minuman, buang air kecil, dsb.), mereka tidak akan terlalu kecewa kalau harus berada di barisan paling belakang, asalkan pandangan mata ke arah layar tidak terlalu terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari sangat sedikit pagelaran wayang kulit yang penulis nilai berhasil mempertahankan jumlah penonton sampai pagi, berikut ini ada 3 (tiga) alternatif pengaturan lokasi penonton yang seyogyanya dicontoh oleh para panitia, supaya tidak terjadi diskriminasi berlebihan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif Pertama: Sama sekali tidak disediakan kursi. Alternatif ini cocok untuk diterapkan di segala tempat (di dalam gedung ataupun di ruang terbuka seperti lapangan atau jalan raya) yang ber”lantai” kering. Semua penonton, baik yang “undangan” maupun yang “tak diundang” dipersilahkan duduk “lesehan”. Untuk menahan hawa dingin dari lantai (aspal, beton, keramik, tanah kering) sediakanlah tikar. Supaya ada ruang untuk lewat tanpa menginjak-injak tikar, aturlah tikar dengan sistem bersaf-saf (seperti pada persiapan sholat Iedul Fitri di lapangan). Sesuai dengan karakternya yang sederhana, penonton “tak terhormat” tidak akan menuntut adanya tikar yang bagus. Koran bekas pun bagi mereka sudah cukup untuk sekedar alas “lesehan”. Oleh karena itu, apabila jumlah tikar dirasa akan kurang, sediakanlah koran-koran bekas. Para pecinta wayang kulit dari unsur “jelata” biasanya sudah “kreatif” dalam mengantisipasi hawa lembab lantai, misalnya menggunakan sarung atau sandal sebagai penebal alas “lesehan”. Bolehlah tikar bagus dan tebal dikhususkan bagi para penonton “terhormat”, tetapi janganlah ditambahi bantal-tebal, “dhingklik”, apalagi kursi, sebab tambahan ketebalan alas duduk 10 cm saja sudah berpotensi menimbulkan gangguan pandangan bagi penonton di belakangnya.&lt;br /&gt;Kelemahan dari Alternatif Pertama ini adalah tidak cocok diterapkan di lantai basah (misalnya di lapangan saat musim hujan). Kelemahan lainnya adalah: Para penonton “terhormat” yang bertubuh gendhut dan yang tidak terbiasa “lesehan” akan merasa tidak nyaman, lantas pulang lebih awal karena merasa tidak diperlakukan sebagai seorang “terhormat”. Tetapi risiko tersebut dapatlah diabaikan saja (panitia tidak perlu merasa bersalah), mengingat jumlah penonton “jenis ini” tentunya sangat sedikit. Bagi penonton “jelata” berbadan gemuk, tentunya kondisi “lesehan” ini sudah mereka sadari sejak awal sehingga biasanya mereka akan “kreatif” menyesuaikan diri dan tidak “rewel”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif Kedua: Disediakan kursi bagi para penonton “terhormat” tetapi lokasinya di bagian belakang. Para penonton “jelata” dipersilahkan duduk “lesehan” di bagian depan. Sistem ini merupakan kebalikan dari sistem “klasik” yang feodalistik dan diskriminatif tadi. Panitia tidak perlu mengkhawatirkan terganggunya pandangan para “beliau” oleh mondar-mandirnya para penonton “jelata”. Sebab, orang-orang jelata yang sederhana itu cukup “tahu diri” untuk tidak mondar-mandir. Bila untuk suatu keperluan mereka harus meninggalkan tempat “lesehan”, mereka tentu bersikap sopan dengan berjalan merendah (“mendhak”), demikian pula waktu kembali. Karakteristik penonton “tak diundang” dalam pentas wayang kulit sangatlah berbeda dari penonton pentas musik dangdut atau rock. Para pecinta-sejati kesenian wayang kulit itu jauh lebih sopan, tahu diri dan mudah diatur.&lt;br /&gt;Kelemahan Alternatif Kedua ini adalah : Sulit menentukan luas area bagi lokasi “lesehan” (depan) dan lokasi “kursi kehormatan” (belakang). Jika lokasi “kursi kehormatan” terlalu jauh dari layar, para “beliau” akan merasa tidak nyaman. Namun, jika terlalu dekat, maka lokasi “lesehan” akan terlalu sempit sehingga tidak mampu menampung jumlah penonton “tak terhormat”. Alternatif Kedua ini hanya cocok untuk diterapkan pada pertunjukan di dalam gedung dengan publikasi yang terbatas. Tidak cocok untuk pentas di lapangan terbuka, apalagi kalau publikasinya sangat meluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif Ketiga: Sediakan kursi sebanyak mungkin, supaya penonton yang (terpaksa) berdiri jumlahnya bisa diminimumkan dan tidak terlalu berdesak-desakan. Penonton “terhormat” di bagian depan, sedangkan penonton “jelata” di bagian belakang.&lt;br /&gt;Kelemahan Alternatif Ketiga ini tentunya cukup jelas : Biaya sewa kursi menjadi lebih tinggi. Meskipun demikian, Alternatif Ketiga ini masih lebih manusiawi ketimbang sistem pengaturan lokasi yang “klasik tapi salah-kaprah”, yang over-feodalistik dan over-diskriminatif tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari alternatif manapun yang dipilih untuk diterapkan, memang tetap diperlukan adanya batas antara lokasi “terhormat” dengan lokasi “jelata”, untuk menjaga ketertiban. Tetapi batas itu janganlah berupa pagar besi atau kayu yang menghalangi pandangan mata para penonton “jelata” ke arah layar. Mungkin batas itu cukup berupa tali plastik saja, dijaga oleh beberapa petugas keamanan yang juga duduk menghadap layar (duduk tenang, tidak mondar-mandir). Intinya, batas itu dibuat sekedar untuk mempermudah panitia melaksanakan tugas menyajikan konsumsi bagi para tamu “undangan”, pengambilan foto (dokumentasi) dan urusan protokoler. Batas itu jangan sampai mencerminkan diskriminasi yang berlebihan. Kalau cuma haus, lapar atau mengantuk, para penonton “jelata” pasti akan tahu diri, menyesuaikan diri dan kreatif mengurus diri sendiri. Mereka tidak akan menuntut dilayani oleh panitia. Mereka juga tidak akan “mengganggu” jatah konsumsi yang memang sudah sewajarnya dikhususkan bagi para tamu “terhormat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"DOSA-DOSA"  LAIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping “dosa utama” tadi, sering terjadi panitia pentas wayang kulit melakukan “dosa-dosa lain” yang menyebabkan penonton tidak betah menonton sampai selesainya pertunjukan. “Dosa-dosa lain” itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Tidak Memastikan Letak Toilet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pentas yang digelar di tempat terbuka (alun-alun, lapangan sepak bola, jalan raya, dsb.) sering panitia tidak memastikan letak toilet. Padahal, pentas semalam suntuk sangat memungkinkan banyak penonton “kebelet” membuang hajat (kecil ataupun besar). Kerapkali terjadi, toilet-toilet di gedung-gedung sekitar lokasi pertunjukan malah dikunci rapat-rapat oleh satpam masing-masing gedung. Kalaupun tersedia toilet, seringkali peruntukannya terlalu “eksklusif”, yaitu terbatas untuk panitia sendiri dan para “beliau yang terhormat”, tidak untuk umum. Kalaupun ada toilet umum, banyak panitia tidak memasang tulisan penunjuk arah ke sana secara jelas dan merata di semua sudut.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_u0TaI-GI/AAAAAAAAASs/Tcj-hgHx2ZM/s1600/foto11.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_u0TaI-GI/AAAAAAAAASs/Tcj-hgHx2ZM/s640/foto11.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari ketidakpastian mengenai ada-tidaknya toilet umum, para penonton “tak terhormat” yang rumahnya dekat dengan lokasi pentas memilih pulang saja untuk “menunaikan kewajiban” masing-masing. Setelah berada di rumah, ada banyak hal yang membuat mereka tidak kembali ke lokasi pentas wayang kulit, misalnya tayangan TV yang lebih menarik. Para penonton “tak terhormat” yang rumahnya jauh dari lokasi pentas akan memilih dua kemungkinan. Yang “bermental baja” akan mencari tempat-tempat gelap, sepi dan tersembunyi di sekitar lapangan untuk “menunaikan kewajiban” mereka. Yang memilih pulang tentunya malas kembali ke lokasi pentas, karena jauh. Jelaslah, ketidakpastian mengenai toilet umum merupakan salah satu faktor penyebab berkurangnya jumlah penonton meskipun pertunjukan masih jauh dari selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya, jauh-jauh hari sebelum hari H, panitia melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan para pemilik / pengurus gedung-gedung di sekitar lapangan yang akan dijadikan lokasi pentas wayang kulit semalam suntuk. Lakukan pendekatan supaya toilet-toilet di dalam gedung-gedung itu boleh dipergunakan sebagai toilet umum. Apabila pendekatan itu tidak berhasil, semestinyalah panitia menyediakan toilet umum yang “portable” (seperti yang sering digunakan di pasar-pasar malam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Tidak Mengatur Tempat Parkir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dosa” ini juga sering dilakukan oleh panitia yang menggelar pertunjukan wayang kulit di tempat terbuka. Karena tidak ada pengaturan secara tertib mengenai parkir kendaraan, banyak kendaran (terutama sepeda motor) yang dinaiki mendekat (terlalu dekat) ke lokasi kerumunan penonton “tak terhormat”. Seringkali mesin sepeda motor tidak dimatikan sehingga mengganggu telinga orang banyak. Asap knalpot sering masuk ke wilayah kerumunan penonton “jelata”. Knalpot panas juga membahayakan kaki orang-orang dan anak-anak kecil yang lewat di samping kendaraan yang bersangkutan. Akibatnya, banyak penonton “jelata” yang berkeputusan untuk pulang saja, terutama para wanita dan yang mengajak anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya panitia pentas wayang kulit mempersiapkan sistem perparkiran yang tertib. Lokasi parkir jangan terlalu dekat dengan lokasi penonton, meskipun penonton itu dari golongan “tak diundang”. Mengabaikan masalah ini dapat menimbulkan risiko serius (misalnya anak kecil terkena knalpot panas), di samping menjadi salah satu faktor penyebab pulangnya penonton sebelum pertunjukan berakhir. Jika tidak ada kepastian mengenai tempat parkir yang tertib dan aman, para pemilik sepeda motor juga tidak sepenuhnya bisa disalahkan bila memasukkan sepeda motor mereka di antara kerumunan penonton. Mereka juga ingin menikmati pertunjukan wayang kulit tanpa khawatir kehilangan sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Tidak Menertibkan Pedagang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran pedagang minuman dan makanan memang sangat dibutuhkan oleh para penonton “jelata”, sebab para penonton “tak diundang” ini tidak memperoleh hidangan dari panitia. Pedagang mainan anak-anak juga bermanfaat bagi para orang-tua yang anaknya mulai rewel. Meskipun demikian, panitia sering lalai mengatur para pedagang sehingga mereka tidak tertib dan malah “menyerobot” wilayah penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang sering penulis lihat, panitia hanya sibuk menjaga keamanan dan kenyamanan lokasi penonton “undangan”, sedangkan lokasi penonton “tak diundang” diabaikan. Akibatnya, gerobak-gerobak dan pikulan-pikulan dagangan rupa-rupa “menyerbu” masuk ke wilayah penonton “tak diundang”. Suara-suara “thek-thek-thek”, “thok-thok-thok”, “thing-thing-thing”, “thik-thok-thik-thok” sampai “thoet-thoet” bersahut-sahutan menyaingi suara dalang. Pesan-pesan kebajikan dari kisah yang sedang dimainkan sang dalang menjadi tidak diterima secara utuh di telinga para penonton “tak diundang”. Wilayah lokasi penonton “jelata” menjadi semakin sempit dan tidak nyaman. Akibatnya, para penonton “jelata” yang tidak kebagian tempat menonton karena “terdesak gerobak” akan cenderung mengambil keputusan: pulang lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya panitia sejak awal sudah menetapkan batas terdekat untuk para pedagang boleh meletakkan gerobak atau pikulan. Batas ini harus dijaga oleh petugas keamanan dalam jumlah yang cukup. Pada batas inilah petugas keamanan boleh berdiri dan berjalan mondar-mandir untuk memelihara ketertiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Penataan Suara Terlalu Buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dosa” terakhir yang dilakukan panitia pentas wayang kulit, yang sering penulis temukan sebagai “biang kerok” bubarnya sebagian besar penonton sebelum pertunjukan berakhir adalah : Tata suara (sound system) yang terlalu buruk. Suara “kemresek”, mendenging, tidak jelas (“gemrunggung”) yang keluar dari alat pengeras suara merupakan “penyakit” yang sering menjengkelkan penonton. Bila dalam satu-dua jam “masalah teknis” itu tidak diatasi oleh panitia, maka bisa dipastikan banyak penonton (baik yang “undangan” maupun yang “tak diundang”) memilih pulang lebih awal. Kalau suatu panitia bisa menyelenggarakan pentas musik dangdut atau rock dengan tata suara yang bersih menggelegar enak didengar, mengapa orang-orang yang sama saat menjadi panitia pentas wayang kulit tidak bisa menyajikan sound system yang berkualitas baik ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAN DALANG: Mencegah Panitia Berbuat “Dosa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup tulisan ini, penulis mengimbau kepada para dalang untuk berperan sebagai “filter” sebelum pada hari H panitia melakukan “dosa-dosa” tersebut. Dalang merupakan figur sentral dalam suatu pagelaran wayang kulit. Ketidakberhasilan suatu pagelaran, meskipun penyebabnya adalah cara-kerja panitia yang tidak becus, dapat saja berdampak negatif bagi nama-baik dalang. Oleh karena itu, setiap dalang harus proaktif sejak rencana kontrak belum ditandatangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalang harus “tega” menuntut agar panitia mengatur lokasi penonton sedemikian rupa sehingga tidak terjadi diskriminasi berlebihan antara lokasi penonton “undangan” dengan lokasi penonton “tak diundang”. Dalang harus menuntut agar panitia memastikan penyediaan toilet umum, mengatur perparkiran kendaraan, mengatur ketertiban pedagang dan membangun sistem tata suara yang baik. Tuntutan dalang dan pernyataan kesediaan panitia mengenai hal ini harus dicantumkan dalam surat kontrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_vDG_x9gI/AAAAAAAAAS0/oeD9_BjM28o/s1600/foto08.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_vDG_x9gI/AAAAAAAAAS0/oeD9_BjM28o/s320/foto08.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Tiga-empat jam sebelum pertunjukan dimulai, dalang perlu melakukan “inspeksi” secara langsung di lokasi pertunjukan dan sekitarnya. Bila terlihat adanya gejala-gejala bahwa panitia melakukan suatu “dosa”, dalang seyogyanya bersikap tegas. Bila panitia tidak bisa memberikan kepastian dan beralasan yang nampak dibuat-buat, dalang perlu bersikap lebih tegas lagi, kalau perlu: membatalkan pertunjukan. Atas pembatalan ini dalang tidak bersalah, karena panitialah yang melanggar klausul-klausul kontrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui peran aktif para dalang untuk mencegah terjadinya panitia melakukan “dosa-dosa” tersebut, dapat diharapkan di masa depan pagelaran wayang kulit akan semakin baik, berhasil, dan memuaskan lebih banyak pecinta kesenian wayang kulit. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Budaya,&lt;br /&gt;Salam Indonesia,&lt;br /&gt;Condro Bawono alias mBilung Sarawita ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto lengkap: &lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30668576&amp;amp;id=1213958305&amp;amp;fbid=1281193269295#%21/album.php?aid=2037840&amp;amp;id=1213958305"&gt;Klik di sini&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-1437166879183614589?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/1437166879183614589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/04/dosa-panitia-pentas-wayang-kulit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/1437166879183614589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/1437166879183614589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/04/dosa-panitia-pentas-wayang-kulit.html' title='“DOSA” PANITIA PENTAS WAYANG KULIT'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S9_t0xmV-lI/AAAAAAAAASM/SZ6R9F0bKJA/s72-c/foto04.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-8366724222907092255</id><published>2010-03-29T17:11:00.001+07:00</published><updated>2010-03-29T19:42:58.048+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pentas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wayang Kulit'/><title type='text'>Hadirilah Pentas Wayang Kulit!</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hadirilah Pentas Wayang Kulit Semalam Suntuk &lt;span style="color: blue;"&gt;GRATIS&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;Dalam rangka Syukuran BKT (&lt;span style="color: blue;"&gt;Banjir Kanal Timur&lt;/span&gt;) Tembus Laut.&lt;span id="more-215"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dengan Lakon: &lt;b&gt;ROMO TAMBAK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;b&gt;Ki Dalang PURBO ASMORO&lt;/b&gt; S.Kar, M.Kum &lt;b&gt;dari SOLO&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hari danTanggal: &lt;b&gt;Jum’at, 2 APRIL 2010&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bertempat di: &lt;b&gt;Halaman RuSun MARUNDA, Belakang STIP&lt;/b&gt; (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran)&lt;br /&gt;Mulai Pukul: &lt;b&gt;19.30 WIB – Selesai&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dihadiri oleh: Menteri Pekerjaan Umum, Gubernur DKI Jaya, Walikota JakUt, Ka. Balai Ciliwung – Cisadane, dll.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S7B8wtbNK_I/AAAAAAAAARs/vcXzRUIz9Us/s1600/wayang-300x196.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S7B8wtbNK_I/AAAAAAAAARs/vcXzRUIz9Us/s320/wayang-300x196.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Jangan sampai dilewatkan! Hadirilah beramai-ramai dengan sanak keluarga. Kami tunggu Anda disana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-8366724222907092255?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/8366724222907092255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/03/hadirilah-pentas-wayang-kulit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/8366724222907092255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/8366724222907092255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/03/hadirilah-pentas-wayang-kulit.html' title='Hadirilah Pentas Wayang Kulit!'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S7B8wtbNK_I/AAAAAAAAARs/vcXzRUIz9Us/s72-c/wayang-300x196.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-7694970028147213926</id><published>2010-03-29T17:05:00.003+07:00</published><updated>2010-03-30T09:20:14.190+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa'/><title type='text'>Radio Garuda Suriname Streaming</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S7Ff0_gWhlI/AAAAAAAAAR0/FoBZBAkT7qA/s1600/Radio+Garuda+Suriname+NV.bmp" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S7Ff0_gWhlI/AAAAAAAAAR0/FoBZBAkT7qA/s320/Radio+Garuda+Suriname+NV.bmp" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message" style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ingin Dengar Radio/TV Wong Jowo di Suriname? Seperti&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; apa logat bicara saudara kita disana? Di situs ini anda juga bisa&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mendengar lagu-lagu Jawa yang dibuat masyarakat Suriname. klik link ini&lt;/span&gt;: &lt;i&gt;&lt;a href="http://rtv-garuda.com/webplayer.html" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &amp;quot;34c5bdcc1101f5007bff9f585d08110f&amp;quot;, event)" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://rtv-garuda.com/webplayer.html&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-7694970028147213926?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/7694970028147213926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/03/radio-garuda-suriname-streaming.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/7694970028147213926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/7694970028147213926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/03/radio-garuda-suriname-streaming.html' title='Radio Garuda Suriname Streaming'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S7Ff0_gWhlI/AAAAAAAAAR0/FoBZBAkT7qA/s72-c/Radio+Garuda+Suriname+NV.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-5429250318427093187</id><published>2010-03-02T16:50:00.004+07:00</published><updated>2010-04-29T06:29:00.357+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lakon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wayang Kulit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filosofi'/><title type='text'>Serat Dewa Ruci</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S4zf1kW32AI/AAAAAAAAARk/JQTOTbP8X28/s1600-h/dewaruci1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443972160969758722" src="http://4.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S4zf1kW32AI/AAAAAAAAARk/JQTOTbP8X28/s400/dewaruci1.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 234px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 300px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="postentry"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Atas perintah bekas gurunya Durna Werkudara berangkat untuk mencari air hidup. Begitu mendengarnya seluruh perhatian Werkudara tertuju paadanya. Tidak ada pertimbangan yang menahanya. Besar tekadnya untuk mendapatkanya. Bersatu tekad hingga berani mati. Tanpa menghiraukan bahaya yang mengancamnya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; Ia membongkar hutan Tikrasara terus gunung Candramuka. Raksasa Rukmaka dan Rukmakala terbunuh menjadi sang indra dan sang Bayu kembali ke keindraan. Werkudara menyelam mengarungi samudra ,membunuh naga yang ganas yang bernama Nemburnyawa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; Dalam hal ini Werkudara menjadi perlambang , manusia bertapa(bersemedi), menghilangkan nafsu-nafsu rendah dan memurnikan batinya.ia &lt;i&gt;“mati sajroning urip”&lt;/i&gt;dengan tujuan &lt;i&gt;“urip sajroning mati”&lt;/i&gt;. Sikap Werkudara adalah sikap sempurna dalam falsafah jawa. Setelah kuku pancanaka merobek robek naga Nemburnyawa dan usahanya tiada hasil. Badan lelah dan membiarkan diri diombang ambing kan alun kesana kemari. Keadaan tampk sepi tenang tidak ada sesuatu lagi yang dikerjakan.akhirnya Werkudara yang gagah berani itu pasrah kepada kodrat yang menentukan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Pada saat itulah muncul tubuh kecil ,yang persis dengan werkudara itu sendiri. Wujud itu menamakanya Dewa Ruci, sebagai penjelmaan yang maha kuasa, pribadi Werkudara. Ia mengajak Werkudara memasuki batinya melalui telinga kiri&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; Dewa Ruci mengantarnya keperjalaanan sesungguhnya .didalam pribadinya Werkudara menemukan apa yang dicarinya ,air hidup ,yaitu asal usul dirinya, &lt;i&gt;Sangkan paraning dumadi&lt;/i&gt; di dasar batinya sendiri. Werkudara bersatu dengan Tuhanya didasar sukmanya sendiri . Ia mencapai &lt;i&gt;manunggaling kawula Gusti&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; Setelah Werkudara kembali ke lingkungan saudara-saudaranya secara lahiriah tidak berubah&lt;i&gt;. Dengan Sepi ing pamrih&lt;/i&gt; Werkudara selalu memenuhi kewajibannya. Air hidup itu oleh Werkudara dicarinya tidak untuk keuntungan. Sebenarnya Werkudara menjadi orang besar, yaitu manusia sempurna berupa insan kamil yang telah mendapat kehidupan yang sebenarnya,tak terkalahkan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; Demikian kisah Dewa Ruci menurut DR. Frans Magins Suseno SJ.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: http://batharablade.wordpress.com/2008/09/26/serat-dewa-ruci/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-5429250318427093187?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/5429250318427093187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/03/serat-dewa-ruci.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/5429250318427093187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/5429250318427093187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/03/serat-dewa-ruci.html' title='Serat Dewa Ruci'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S4zf1kW32AI/AAAAAAAAARk/JQTOTbP8X28/s72-c/dewaruci1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-964016824012671685</id><published>2010-02-11T06:26:00.003+07:00</published><updated>2010-03-25T20:05:11.185+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filosofi'/><title type='text'>Sekilas Filosofi Wayang</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S3ND2-yKzWI/AAAAAAAAARc/MpnVUFmo8XY/s1600-h/19037_1273316285136_1596783506_2349414_5934220_s.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436763787011738978" src="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S3ND2-yKzWI/AAAAAAAAARc/MpnVUFmo8XY/s400/19037_1273316285136_1596783506_2349414_5934220_s.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 130px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 199px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni &lt;a href="http://de-kill.blogspot.com/2009/04/sekilas-filosofi-wayang.html"&gt;pewayangan&lt;/a&gt; yang merupakan seni pakeliran dengan tokoh utamanya Ki Dalang adalah suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni tatah sungging (seni rupa) dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending/irama gamelan, diwarnai dialog (antawacana), menyajikan lakon dan pitutur/petunjuk hidup manusia dalam falsafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni pewayangan dapat digelar dalam bentuk &lt;a href="http://de-kill.blogspot.com/"&gt;Wayang&lt;/a&gt; Kulit Purwa, dilatar-belakangi layar/kelir dengan pokok cerita yang sumbernya dari Mahabharata dan Ramayana, berasal dari India. Namun ada juga pagelaran wayang kulit purwa dengan lakon cerita yang di petik dari ajaran Budha, seperti cerita yang berkaitan dengan upacara ruwatan (pensucian diri manusia). Pagelaran wayang kulit purwa biasanya memakan waktu semalam suntuk.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semasa Sri Susuhunan X di Solo didirikan tempat pementasan Wayang Orang, yaitu di Sriwedari yang merupakan bentuk pewayangan panggung dengan pemainnya terdiri dari orang-orang yang memerankan tokoh-tokoh wayang. Baik cerita maupun dialognya dilakukan oleh masing-masing pemain itu sendiri. Pagelaran ini diselenggarakan rutin setiap malam. Bentuk variasi wayang lainnya yaitu wayang Golek yang wayangnya terdiri dari boneka kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seniman cina yang berada di Solo juga kadang menggelar wayang golek cina yang disebut Wayang Potehi. Dengan cerita dari negeri Cina serta iringan musiknya khas cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga Wayang Beber yang dalam bentuknya merupakan lembaran kain yang dilukis dan diceritakan oleh sang Dalang, yang ceritanya berkisar mengenai Keraton Kediri, Ngurawan, Singasari (lakon Panji).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayang Klitik adalah jenis pewayangan yang media tokohnya terbuat dari kayu, ceritanya diambil dari babat Majapahit akhir (cerita Dhamarwulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu terkadang “wong Jowo” memanfaatkan waktu senggangnya membuat wayang dari rumput, disebut Wayang Rumput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang jawa mempunyai jenis kesenian tradisional yang bisa hidup dan berkembang hingga kini dan mampu menyentuh hati sanubari dan menggetarkan jiwa, yaitu seni pewayangan. Selain sebagai alat komunikasi yang ampuh serta sarana memahami kehidupan, wayang bagi orang jawa merupakan sibolisme pandangan-pandangan hidup orang jawa mengenai hal-hal kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wayang seolah-olah orang jawa tidak hanya berhadapan dengan teori-teori umum tentang manusia, melainkan model-model hidup dan kelakuan manusia digambarkan secara konkrit. Pada hakekatnya seni pewayangan mengandung konsepsi yang dapat dipakai sebagai pedoman sikap dan perbuatan dari kelompok sosial tetentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepsi-konsepsi tersebut tersusun menjadi nilai nilai budaya yang tersirat dan tergambar dalam alur cerita-ceritanya, baik dalam sikap pandangan terhadap hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungannya serta hubungan manusia jawa dengan manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukkan wayang terutama wayang kulit sering dikaitkan dengan upacara adat: perkawinan, selamatan kelahiran bayi, pindahan rumah, sunatan, dll, dan biasanya disajikan dalam cerita-cerita yang memaknai hajatan dimaksud, misalnya dalam hajatan perkawinan cerita yang diambil “Parto Krama” (perkawinan Arjuna), hajatan kelahiran ditampilkan cerita Abimanyu lahir, pembersihan desa mengambil cerita “Murwa Kala/Ruwatan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://de-kill.blogspot.com/2009/04/sekilas-filosofi-wayang.html"&gt;http://de-kill.blogspot.com/2009/04/sekilas-filosofi-wayang.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-964016824012671685?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/964016824012671685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/02/sekilas-filosofi-wayang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/964016824012671685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/964016824012671685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2010/02/sekilas-filosofi-wayang.html' title='Sekilas Filosofi Wayang'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/S3ND2-yKzWI/AAAAAAAAARc/MpnVUFmo8XY/s72-c/19037_1273316285136_1596783506_2349414_5934220_s.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-6830620023195727620</id><published>2009-12-28T14:43:00.006+07:00</published><updated>2010-03-25T20:05:25.691+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai kehidupan'/><title type='text'>Suara-Suara Gaib</title><content type='html'>Kumpulan pertanyaan dan jawaban yang menyadarkan kita akan hidup kita di dunia, semoga bermanfaat.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira:&lt;/b&gt; Silakan ajukan pertanyaanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara Gaib:&lt;/b&gt; Apa yang menyebabkan matahari bersinar tiap hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira:&lt;/b&gt; Kekuatan Brahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara Gaib:&lt;/b&gt; Apa yang dapat menolong manusia dari semua marabahaya?&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira:&lt;/b&gt; Keberanian adalah pembebas manusia dari semua marabahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara Gaib:&lt;/b&gt; Mempelajari ilmu apakah yang bisa membuat manusia menjadi bijaksana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira:&lt;/b&gt; orang tidak menjadi bijaksana hanya karena mempelajari kitab-kitab suci. Orang menjadi bijaksana karena bergaul dan berkumpul dengan para cendekiawan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara Gaib:&lt;/b&gt; Apa yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira:&lt;/b&gt; Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Apa yang lebih tinggi dari langit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Bapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Apa yang lebih kencang dari angin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Apa yang lebih berbahaya dari jerami kering di musim panas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Hati yang menderita duka nestapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Apa yang menjadi teman seorang pengembara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Kemauan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Siapakah teman seorang lelaki yang tinggal di rumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Dharma. Hanya Dialah yang menemani jiwa dalam kesunyian perjalanan setelah kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Perahu apakah yang terbesar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Bumi dan segala isinya adalah perahu terbesar di jagad ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Apakah kebahagiaan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Kebahagiaan adalah buah dari tingkah laku dan perbuatan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Apakah itu, jika orang meninggalkannya ia akan dicintai sesamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan orang akan dicintai sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Kehilangan apakah yang menyebabkan orang bahagia dan tidak sedih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Amarah. Kehilangan amarah membuat kita tidak diburu lagi oleh kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Apakah itu, jika orang membuangnya jauh-jauh, ia menjadi kaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Hawa nafsu. Dengan membuang hawa nafsu orang akan menjadi kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Apakah yang membuat orang menjadi benar-benar brahmana? Apakah kelahiran, kelakuan baik, atau pendidikan? Jawab dengan tegas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Kelahiran dan pendidikan tidak membuat orang menjadi brahmana; hanya kelakuan baik yang membuatnya demikian. Betapapun pandainya seseorang, ia tidak akan menjadi brahmana jika ia menjadi budak kebiasaan jeleknya. Betapapun dalamnya penguasaannya akan kitab-kitab suci, tapi jika kelakuannya buruk, ia akan jatuh ke kasta yang lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Gaib&lt;/b&gt;: Keajaiban apakah yang terbesar di dunia ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yudhistira&lt;/b&gt;: Setiap orang mampu melihat orang lain pergi menghadap Batara Yama (Dewa Kematian), namun mereka yang masih hidup terus berusaha untuk hidup lebih lama lagi. Itulah keajaiban terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Dikutip dari: 2003, PT. Gramedia Pustaka Utama, Mahabharata, Nyoman S. Pendit, halaman 248-250&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-6830620023195727620?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/6830620023195727620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2009/12/suara-suara-gaib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/6830620023195727620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/6830620023195727620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2009/12/suara-suara-gaib.html' title='Suara-Suara Gaib'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-946223907079254380</id><published>2009-12-28T11:23:00.005+07:00</published><updated>2009-12-29T21:24:53.578+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='siasat'/><title type='text'>Siasat Perang Supit Urang (sepit udang) yang Tak Terkalahkan</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SzgzK9kADiI/AAAAAAAAARM/ufWFiP0fCII/s1600-h/supiturang.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420138414957661730" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 322px; CURSOR: hand; HEIGHT: 371px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SzgzK9kADiI/AAAAAAAAARM/ufWFiP0fCII/s400/supiturang.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;SIASAT&lt;/strong&gt; perang ini merupakan seekor udang yang menampakan kedua sepitnya. Siasat perangnya menggunakan gerak-gerik yang amat teliti, karena pemimpin selalu mengetahui serangan musuh yang akan dilawan dengan siap sedia. Dengan ketangkasan sepitnya, musuh akan mendapat bahaya. Cara perang dalam Baratayuda Drustadyumna sebagai ujung sepit kanan, Gatotkaca sebagai sepit kiri, Setyaki sebagai mulut, Prabu Darmaputra sebagai kepala, diiringi para Raja pembantu. Abimanyu (Angkawijaya) sebagai sungut, diiring dengan tetabuhan perang dan tempik sorak riuh rendah membangun semangat. Pada perang itu Abimanyu kena tipu hikmat perang Korawa yang menyerupai supit urang, tewaslah Abimanyu dengan mendapat penuh luka, yang dalam peribahasa Jawa disebut: tatu arang kranjang (luka parah sebagai jarang anyaman keranjang). &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dikutip dari: 1965, P.N. Balai Pustaka, Sedjarah Wajang Purwa, Pak Hardjowirogo, dengan sedikit perubaan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-946223907079254380?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/946223907079254380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2009/12/siasat-perang-supit-urang-sepit-udang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/946223907079254380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/946223907079254380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2009/12/siasat-perang-supit-urang-sepit-udang.html' title='Siasat Perang Supit Urang (sepit udang) yang Tak Terkalahkan'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SzgzK9kADiI/AAAAAAAAARM/ufWFiP0fCII/s72-c/supiturang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-5862930426165031068</id><published>2009-02-24T19:38:00.005+07:00</published><updated>2011-06-07T16:57:57.707+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Wayang Kulit'/><title type='text'>Tokoh Pewayangan Ajarkan Karakteristik Watak Pria</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 180%;"&gt;&lt;b&gt;D&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;UNIA pewayangan (wayang kulit) melalui tokoh-tokohnya sebenarnya memuat banyak simbol dan karakteristik watak manusia. Sejumlah tokoh pewayangan dengan jelas juga merupakan simbol karakteristik pria. Seperti tokoh Arjuna, pria lambang ketampanan, Yudhistira suka perdamaian, Bima adalah pria yang mahal dalam cinta dan tidak gampang tertarik terhadap perempuan.&lt;br /&gt;Berikut adalah beberapa watak dari sejumlah tokoh pewayangan, yang sering dijadikan simbol watak pria, yang disarikan dari pedalangan gagrak Yogyakarta maupun Surakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Yudhistira (Sang Ludira Seta)Yudhistira termasuk putra sulung Pandawa, putra dari Dewi Kunthi. Ketika mudanya bernama Puntadewa, raja Amarta. Puntadewa juga terkenal dengan sebutan gelar Sang Ludira Seta yang artinya berdarah putih. Ini melambangkan pria yang tulus ikhlas dalam berbagai hal. Bahkan dalam satu cerita, Puntadewa rela memberikan isteri tercintanya ketika diminta oleh orang lain yang sangat mengagumi dan mencintainya. Yudhistira adalah lambang dari pria yang teguh hati, penyabar dan suka perdamaian. Sangat setia terhadap isteri, anak dan keluarganya. Yudhistira sangat benci terhadap permusuhan. Walaupun bermandi harta, Yudhistira menentang poligami, sehingga isterinya hanyalah satu, Dyah Ayu Drupadi. Ketika muda, Yudhistira gemar berbusana yang indah-indah, tetapi setelah tua dia justru berpenampilan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Arjuna (Lananging Jagad) Nama Arjuna konon berasal dari kata Jun yang bermakna jambangan. Konon, nama Janaka juga berasal dari Bahasa Arab Jannah yang berarti sorga. Kedua kata tersebut mengandung makna hening atau keheningan. Arjuna memiliki sifat dan watak fitrah, murni. Tak sedikit wanita yang kasmaran kepadanya. Wujud ketampanan Sang Arjuna adalah lambang kehalusan serta keagungan budi seorang pria. Arjuna juga dikenal menyukai sesuatu yang bersifat estetis, asri, sangat sensitif jiwanya, dan lembut hatinya. Sang Arjuna sulit mengucap kata ‘tidak’ dan kata ‘jangan’, khususnya terhadap kaum wanita. Di situlah kelemahan Sang Arjuna, maka tak sedikit wanita yang sangat merindukannya, walau mereka telah bersuami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kresna (Politikus) Ketika muda, Kresna bernama Narayana. Ia kemudian menjadi raja di Dwarawati. Meskipun secara fisik pria ini berkulit hitam, berdarah hitam dan berdaging hitam, tetapi Kresna tidak ‘hitam’ ulahnya. Kresna adalah lambang pria yang ramah, mudah bergaul, supel, banyak kawan, dan suka bercanda (humor). Ketika memberi fatwa, ia menggunakan berbagai sindiran yang begitu lembut, sehingga yang dinasihati tidak merasa sakit hati. Kresna banyak didatangi sahabat tua-muda dan pria-wanita, untuk sharing atau konsultasi. Umumnya, sepulang dari konsultasi dari Dwarawati, para ‘relasi’ Kresna pulang dengan menggenggam semangat. Kresna memang terkenal sangat strategis dalam menghadapi keluhan para ‘klien’-nya. Kresna memiliki karier yang sulit ditandingi, terlebih di bidang politik. Di mata sesamanya, Kresna memiliki wibawa yang sangat tinggi dan pengaruh yang luar biasa. Dedikasi dan loyalitasnya sangat oke, karena itulah semua anak buah Kresna patuh kepadanya. Dalam rumah tangga, Kresna tidak mengecewakan. Walaupun beristeri tiga orang, Kresna sangat adil. Nasihat yang terkenal dari Kresna kepada para isterinya ialah, agar mereka mengedepankan rasa kemanusiaan dan mengesampingkan busana glamour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Drestharastra (Gagal Membina Isteri) Drestharastra adalah saudara tua dari keluarga Pandawa, bibit darah Pandawa. Ketika Pandhu mangkat, singgasana kerajaan diambil alih oleh Drestharastra, sehingga Pandawa Lima tersingkir. Sebenarnya, Drestharastra memiliki watak agung budi, sabar dan suka mengalah. Tetapi karena terbawa oleh watak isteri tercintanya yang bengis dan ambisius, yang bernama Gandari, maka watak yang sabar, dan suka mengalah tersebut justru dimanfaatkan oleh Sang Gandari, untuk menyetir sang suami, agar sang suami mengikuti seluruh kehendaknya. Drestharastra bisa digambarkan sebagai lambang suami yang terkalahkan dan disetir sang isteri. Maka tidak mustahil jika watak Drestharastra, belakangan berubah. Tak mustahil pula kalau orang-orang yang bekerja pada Drestharastra, jarang yang betah lama, karena Gandari menganggap hina setiap orang yang menghamba kepada Drestharastra. Demikian juga kepada keluarga sang suami. Drestharastra sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Gandari memang cantik, tetapi ia berwatak iri, dengki, semena-mena, dan mudah terhasut. Semua perwatakan itu sangat mempengaruhi watak Drestharastra. Bahkan anak-anak Drestharastra yang berjumlah 100 orang, tak ada satupun yang bisa dijadikan teladan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bima (Si Mahal Cinta)Keperkasaan pria bernama Bima tentu sudah tidak diragukan lagi. Watak Bima memang sangat jauh dari watak angkuh dan sombong, walau dikaruniai kekuatan yang luar biasa. Bima sangat tinggi rasa sayangnya terhadap orang tua dan saudara. Bima juga terkenal jujur kalau berbicara, bahkan tidak pernah berbohong. Namun Bima kurang suka sesuatu yang bersifat formal. Sang Bima selalu bersikap teguh memegang prisip, tidak gampang terhasut atau dipengaruhi dengan apapun, walau si penghasut mempergunakan berbagai jurus dan cara. Bima juga memiliki tenggang rasa yang sangat dalam terhadap siapapun, sehingga ia akan serta-merta memberi pertolongan kepada siapapun yang sedang dilanda musibah dan kesusahan. Ia juga sangat kuat berpegang pada sariat agama dan paugeran kenegaraan. Bima adalah sosok patriotis yang selalu setia kepada lingkungannya dan negerinya sendiri. Dalam komunikasi sosial, Bima dikenal sangat menghormati kaum wanita. Bima juga bukan tipe pria ‘mata keranjang’. Ketika dia tertarik dan memperisteri Dewi Arimbi, semata-mata ia tertarik pada keluhuran budi dan keagungan sang Dyah Ayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Durna (Paranormal Pengeruk Keuntungan) Ketika mudanya, Durna bernama Bambang Kumbayana. Waktu itu Resi Durna begitu tampan dan ganteng. Bambang Kumbayana selalu berbusana mewah, sehingga penampilannya sangat meyakinkan. Tetapi karena wataknya yang hadigang-hadigung, maka wajahnya berubah menjadi tidak karuwan setelah dihajar habis-habisan oleh musuhnya. Resi Durna memang selalu berkostum jubah paranormal (Jw: Pandhita), tetapi perilakunya sangat nista dan hina. Durna dikenal dengan watak ‘bermuka dua’. Pria yang tidak berpendirian kuat dan penuh prasangka buruk, walau ia mengklaim dirinya sebagai ‘paranormal’. Durna juga dikenal sangat suka mendatangi para muridnya, karena di sana akan dihormati oleh murid-murid dan keluarganya. Semua kebutuhannya disediakan, bahkan kadang ia minta dijemput oleh para Korawa. Di balik jubahnya itu, Durna justru tega memanfaatkan setiap orang yang minta pertolongan, untuk kepentingan Durna sendiri. Bahkan ia tega memanfaatkan kesusahan ‘klien’-nya untuk kesenangan pribadi Durna sendiri. Meskipun demikian Durna sering bercerita tentang keberhasilannya dalam menolong sesama, sehingga para tamunya terbius oleh bujukannya. Ia madeg sebagai paranormal, memang hanya untuk mengeruk keuntungan. Namun resminya, Durna adalah penasihat spiritual Astina dan Pandawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Semar (Pembantu Bijaksana) Jika pembaca adalah wanita, dan bersuamikan seorang pria yang sangat pandai mengasuh dan amat bijaksana, itu berarti tak jauh berbeda dengan karakteristik Sang Semar. Walau hanya seorang punakawan, sebenarnya Semar adalah turunan dari bangsawan, bahkan saudara Sang Hyang Guru Nata (dewa dari seluruh dewa) di Kahyangan. Walaupun Semar dikenal sebagai orang papa, ia memiliki insting yang sangat tajam, intuitif, dan memiliki watak kedewaan. Semar senantiasa adil dan bijak dalam memutuskan setiap masalah atau perkara. Bila diperintah menumpas keangkaramurkaan, Semar akan memperlihatkan kesejatian dirinya. Akan tetapi dalam keseharian, Semar selalu berpenampilan sebagai sosok titah sawantah belaka. Isteri Semar adalah Dewi Kanistri, yang selalu ditinggal pergi karena panggilan tugas mulia sang suami dalam menghamba kepada pemimpin dan bangsanya. Kehidupan keluarga Semar lebih mengedepankan lakutama daripada gemerlap duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Baladewa (Mudah Marah, Mudah Memaafkan) Waktu mudanya, Baladewa bernama Raden Kakrasana, kakak Prabu Kresna. Baladewa berkulit putih kemerahan seperti turis (bule). Ia adalah lambang pria yang suka bersemedi, suka pati raga dan tirakat. Ia lebih banyak berkecimpung di dalam dunia ilmu ghaib. Waktu yang lain dimanfaatkan untuk berkiprah di bidang olah kaprajan, juga menempa strategi berperang. Baladewa memiliki watak sangat menyayangi keluarganya, terlebih kepada saudara perempuannya, Dyah Ayu Sembadra. Kemanapun pergi, Sembadra senantiasa dalam pengawalan Baladewa. Karakter yang menonjol dari Baladewa adalah mudah marah tapi juga mudah memberi maaf kembali. Hubungan kekeluargaan dengan Pandawa memang sedikit renggang, karena Baladewa banyak bermukim di Astina. Tetapi Baladewa juga serta-merta hijrah dari Astina, setelah mengetahui bahwa keluarga Astina telah melenceng dari kesepakatan dan pesan para leluhur. Baladewa bisa dilambangkan sebagai gambaran sosok pria yang setiap bertindak selalu serampangan, tanpa dipikir panjang terlebih dahulu, akhirnya justru malu sendiri setelah ketahuan kekeliruannya. Kelebihan lain dari Baladewa adalah berani mengakui secara jantan atas kekeliruan dan kekhilafannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh: Soegiyono MS, Guru SMP Muhammadiyah 1 Wates Kulonprogo, anggota Sanggar Seni Sastra Kulonprogo &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( sumber: Kedaulatan Rakyat, 26/05/2008 dan &lt;a href="http://www.untukku.com/artikel-untukku/tokoh-pewayangan-ajarkan-karakteristik-watak-pria-untukku.html"&gt;http://www.untukku.com/artikel-untukku/tokoh-pewayangan-ajarkan-karakteristik-watak-pria-untukku.html&lt;/a&gt; )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-5862930426165031068?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/5862930426165031068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2009/02/tokoh-pewayangan-ajarkan-karakteristik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/5862930426165031068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/5862930426165031068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2009/02/tokoh-pewayangan-ajarkan-karakteristik.html' title='Tokoh Pewayangan Ajarkan Karakteristik Watak Pria'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-767231973457164714</id><published>2009-02-19T18:31:00.003+07:00</published><updated>2009-02-19T18:59:20.941+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gamelan'/><title type='text'>Foto-foto pentas gamelan SMP Labschool Kebayoran</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SZ1G0NUTI2I/AAAAAAAAAO8/Pwj4-jliwMs/s1600-h/100_2556.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 320px; HEIGHT: 240px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304473798854255458" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SZ1G0NUTI2I/AAAAAAAAAO8/Pwj4-jliwMs/s320/100_2556.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SZ1GzyLgB4I/AAAAAAAAAO0/GdMKO9dGnKo/s1600-h/100_2554.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 320px; HEIGHT: 240px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304473791569594242" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SZ1GzyLgB4I/AAAAAAAAAO0/GdMKO9dGnKo/s320/100_2554.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SZ1Gz_NrsHI/AAAAAAAAAOs/ev0AmawhL_M/s1600-h/100_2544.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 320px; HEIGHT: 240px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304473795068407922" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SZ1Gz_NrsHI/AAAAAAAAAOs/ev0AmawhL_M/s320/100_2544.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SZ1Gzmc7mRI/AAAAAAAAAOk/z1ti0HkQj3g/s1600-h/100_2527.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 320px; HEIGHT: 240px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304473788421478674" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SZ1Gzmc7mRI/AAAAAAAAAOk/z1ti0HkQj3g/s320/100_2527.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SZ1GzQ-9lgI/AAAAAAAAAOc/4b9-CZty4sU/s1600-h/100_2552.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 320px; HEIGHT: 240px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304473782658635266" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SZ1GzQ-9lgI/AAAAAAAAAOc/4b9-CZty4sU/s320/100_2552.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di atas tadi foto-foto pentas gamelan SMP Labschool Kebayoran di gedung Galeri Nasional pada tanggal 1 Februari 2009. Pentas yang dalam rangka ajang kumpul anak Jalan Sesama ini mengiringi 4 dalang wayang kulit.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-767231973457164714?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/767231973457164714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2009/02/foto-foto-pentas-gamelan-smp-labschool.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/767231973457164714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/767231973457164714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2009/02/foto-foto-pentas-gamelan-smp-labschool.html' title='Foto-foto pentas gamelan SMP Labschool Kebayoran'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SZ1G0NUTI2I/AAAAAAAAAO8/Pwj4-jliwMs/s72-c/100_2556.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-1709781556150692255</id><published>2008-11-21T20:12:00.005+07:00</published><updated>2008-11-21T20:32:28.082+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wayang Kulit'/><title type='text'>Wayang</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Wayang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; adalah seni tradisional &lt;a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; yang terutama berkembang di Pulau &lt;a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa"&gt;Jawa&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Bali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bali"&gt;Bali&lt;/a&gt;. Pertunjukan wayang telah diakui oleh &lt;a class="mw-redirect" title="UNESCO" href="http://id.wikipedia.org/wiki/UNESCO"&gt;UNESCO&lt;/a&gt; pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).&lt;br /&gt;Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai &lt;a class="mw-redirect" title="Wayang orang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_orang"&gt;wayang orang&lt;/a&gt;, dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh &lt;a title="Dalang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dalang"&gt;dalang&lt;/a&gt;. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa &lt;a title="Wayang kulit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_kulit"&gt;waya&lt;/a&gt;&lt;a title="Wayang kulit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_kulit"&gt;ng kulit&lt;/a&gt; atau &lt;a title="Wayang golek" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_golek"&gt;wayang golek&lt;/a&gt;. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari &lt;a title="Mahabharata" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahabharata"&gt;Mahabharata&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Ramayana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana"&gt;Ramayana&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SSa21tq7vqI/AAAAAAAAANI/oAD4Bdiqjoo/s1600-h/wayang+bali.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271101447792737954" style="WIDTH: 82px; CURSOR: hand; HEIGHT: 117px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SSa21tq7vqI/AAAAAAAAANI/oAD4Bdiqjoo/s200/wayang+bali.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kadangkala repertoar &lt;a class="new" title="Cerita Panji (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Cerita_Panji&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;cerita Panji&lt;/a&gt; dan cerita Menak (cerita-cerita Islam) dipentaskan pula.&lt;br /&gt;Wayang, oleh para pendahulu negri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)".&lt;br /&gt;&lt;a id="Jenis-jenis_wayang" name="Jenis-jenis_wayang"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis wayang&lt;br /&gt;&lt;a class="mw-redirect" title="Wayang Kulit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Kulit"&gt;Wayang Kulit&lt;/a&gt; &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SSa2kV2GK4I/AAAAAAAAANA/rj4_nlMOleY/s1600-h/wayang+bali.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="mw-redirect" title="Wayang Purwa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Purwa"&gt;Wayang Purwa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Wayang Madya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Madya"&gt;Wayang Madya&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Wayang Gedog" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Gedog"&gt;Wayang Gedog&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="new" title="Wayang Dupara (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Dupara&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Dupara&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="new" title="Wayang Wahyu (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Wahyu&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Wahyu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="new" title="Wayang Suluh (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Suluh&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Suluh&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="new" title="Wayang Kancil (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Kancil&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Kancil&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Wayang Calonarang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Calonarang"&gt;Wayang Calonarang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="mw-redirect" title="Wayang Krucil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Krucil"&gt;Wayang Krucil&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Wayang Ajen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Ajen"&gt;Wayang Ajen&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="new" title="Wayang Sasak (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Sasak&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Sasak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="new" title="Wayang Sadat (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Sadat&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Sadat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="new" title="Wayang Parwa (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Parwa&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Parwa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="new" title="Wayang Kayu (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Kayu&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Kayu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="mw-redirect" title="Wayang Golek" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Golek"&gt;Wayang Golek&lt;/a&gt; / &lt;a class="new" title="Wayang Thengul (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Thengul&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Thengul&lt;/a&gt; (&lt;a title="Bojonegoro" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bojonegoro"&gt;Bojonegoro&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;a title="Wayang Menak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Menak"&gt;Wayang Menak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="new" title="Wayang Papak (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Papak&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Papak&lt;/a&gt; / &lt;a class="new" title="Wayang Cepak (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Cepak&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Cepak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Wayang Klithik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Klithik"&gt;Wayang Klithik&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="mw-redirect" title="Wayang Beber" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Beber"&gt;Wayang Beber&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Wayang Orang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Orang"&gt;Wayang Orang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="new" title="Wayang Suket (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wayang_Suket&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Wayang Suket&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a id="Jenis-jenis_wayang_kulit_menurut_asal_daerah_atau_suku" name="Jenis-jenis_wayang_kulit_menurut_asal_daerah_atau_suku"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis wayang kulit menurut asal daerah atau suku&lt;br /&gt;Wayang juga ada yang menggunakan &lt;a class="new" title="Bahasa Melayu Lokal (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bahasa_Melayu_Lokal&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;bahasa Melayu Lokal&lt;/a&gt; seperti &lt;a title="Bahasa Betawi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Betawi"&gt;bahasa Betawi&lt;/a&gt;, &lt;a title="Bahasa Palembang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Palembang"&gt;bahasa Palembang&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Bahasa Banjar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Banjar"&gt;bahasa Banjar&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Wayang Jawa Yogyakarta&lt;br /&gt;Wayang Jawa Surakarta&lt;br /&gt;&lt;a title="Wayang Kulit Gagrag Banyumasan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Kulit_Gagrag_Banyumasan"&gt;Wayang Kulit Gagrag Banyumasan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wayang Bali&lt;br /&gt;&lt;a class="mw-redirect" title="Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Kulit_Banjar_(Kalimantan_Selatan)"&gt;Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wayang Palembang (Sumatera Selatan)&lt;br /&gt;Wayang Betawi (Jakarta)&lt;br /&gt;Wayang Cirebon (Jawa Barat)&lt;br /&gt;Wayang Madura (sudah punah)&lt;br /&gt;&lt;a title="Wayang Siam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Siam"&gt;Wayang Siam&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Disadur dari Wikipedia)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-1709781556150692255?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/1709781556150692255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2008/11/wayang.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/1709781556150692255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/1709781556150692255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2008/11/wayang.html' title='Wayang'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SSa21tq7vqI/AAAAAAAAANI/oAD4Bdiqjoo/s72-c/wayang+bali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-5129572229615244687</id><published>2008-10-19T13:23:00.003+07:00</published><updated>2009-09-28T17:20:40.204+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Wayang Kulit'/><title type='text'>Antareja</title><content type='html'>ANTAREJA terkadang disebut Anantareja, anak sulung Bima dengan Dewi Nagagini. Antareja tidak tinggal bersama ayahnya, melainkan tetap di Kayangan Saptapratala bersama kakeknya, Hyang Antaboga dan ibunya. Kesaktian Antareja luar biasa. Semburan ludahnya yang mengandung bisa, akan mematikan siapa saja yang terkena. Bahkan tanah bekas telapak kaki orang yang dijilatnya pun akan menyebabkan si empunya tapak akan meninggal seketika&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-5129572229615244687?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/5129572229615244687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2008/10/antareja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/5129572229615244687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/5129572229615244687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2008/10/antareja.html' title='Antareja'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-8361280242660116345</id><published>2008-08-02T19:10:00.006+07:00</published><updated>2008-08-02T19:56:06.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Wayang Kulit'/><title type='text'>Batara Guru</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berdasarkan hasil polling kemarin, ternyata pemenangnya adalah Batara Guru. Sesuai dengan janji saya, saya akan menuliskan kisah tentang Batara Guru, ini dia....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Batara Guru&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;BATARA GURU &lt;/strong&gt;di dunia pewayangan adalah pemuka para dewa yang memerin-&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SJRRoX-u7WI/AAAAAAAAAGM/6nbo3whf55s/s1600-h/batara+guru+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229894821357743458" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SJRRoX-u7WI/AAAAAAAAAGM/6nbo3whf55s/s200/batara+guru+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tah khayangan, yaitu alam yang dihuni para dewa. Dalam seni kriya Wayang Kulit&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Purwa, Batara Guru dilukiskan bertangan empat, bertaring kecil, berleher biru, ka-&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kinya &lt;em&gt;apus&lt;/em&gt; (semacam penyakit polio), dan hampir selalu mengendarai lembu andini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ayah Batara Guru bernama &lt;strong&gt;Sang Hyang Tunggal&lt;/strong&gt;. Ibunya bernama &lt;strong&gt;Dewi Rekatawi&lt;/strong&gt;. Suatu saat Dewi Rekatami melahirkan anak berujud telur bercahaya terang. Dengan kesaktian yang dimilikinya Hyang Tunggal mengubah ujud telur itu. Kulit relurnya berubah ujud menjadi &lt;strong&gt;Hyang Maha Punggung&lt;/strong&gt;, ia dianggap anak sulung. Putih telurnya diubah menjadi&lt;strong&gt; Hyang Ismaya&lt;/strong&gt; (Semar)&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SJRUyM7ItQI/AAAAAAAAAGU/UpUC0fqb144/s1600-h/semar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229898288723440898" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 82px; CURSOR: hand; HEIGHT: 86px" height="101" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SJRUyM7ItQI/AAAAAAAAAGU/UpUC0fqb144/s200/semar.jpg" width="119" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;, ia dianggap anak kedua. Sedangkan kuning telurnya menjadi&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Hyang Manikmaya&lt;/strong&gt; (Batara Guru), dianggap sebagai anak ketiga. Kedua kakaknya diberi tugas menjadi pamong di dunia, sedangkan Sang Hyang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Manikmaya bertugas mengepalai para dewa di khayangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;  Bagi penganut agama Hindu Batara Guru adalah sebutan lain &lt;strong&gt;Batara Siwa.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sedangkan menurut wayang kulit purwa, Batara Guru sering dieri kesan berbeda&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dengan Batara Siwa. Lagi pula, sebagai salah satu tokoh wayang, walaupun tergolong dewa, Batara Guru bukanlah makhluk yang sempurna. Seperti juga manusia, dan dewa lainnya, ia pun sering berbuat salah. Dalam berbagai lakon Wayang Purwa, Batara Guru diceritakan beberapa kali tidak dapat mengendalikan nafsu birahinya, amarah, dan dendamnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229902209218588482" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 194px; CURSOR: hand; HEIGHT: 161px; TEXT-ALIGN: center" height="161" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SJRYWZ6BL0I/AAAAAAAAAGc/fNNd0KfYGfI/s200/batara+guru.jpg" width="116" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229902863962964770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 161px; CURSOR: hand; HEIGHT: 189px; TEXT-ALIGN: center" height="189" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SJRY8hBPgyI/AAAAAAAAAGk/ae-sh-jJhUA/s200/batara+guru2.jpg" width="90" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-8361280242660116345?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/8361280242660116345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2008/08/batara-guru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/8361280242660116345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/8361280242660116345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2008/08/batara-guru.html' title='Batara Guru'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SJRRoX-u7WI/AAAAAAAAAGM/6nbo3whf55s/s72-c/batara+guru+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-2695207650081191209</id><published>2008-05-01T17:57:00.000+07:00</published><updated>2008-05-01T18:52:12.498+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Wayang Kulit'/><title type='text'>Pandawa Lima</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;PANDAWA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;sebutan bagi kelima orang anak Pandu Dewanata&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SBmi8EdRqlI/AAAAAAAAAEk/rYngnjVJge8/s1600-h/pandawa.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195362798020962898" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 203px; CURSOR: hand; HEIGHT: 140px" height="132" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SBmi8EdRqlI/AAAAAAAAAEk/rYngnjVJge8/s200/pandawa.jpg" width="124" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;Kelima orang Pandawa itu adalah :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;-Yudhistira/Puntadewa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;-Bima/Werkudara&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;-Arjuna/Janaka&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;-Nakula&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;-Sadewa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#ff0000;"&gt;Pandawa dianggap musuh oleh para Kurawa (anak-anak Destarata). Dalam berbagai mata pelajaran Pandawa selalu lebih unggul daripada para Kurawa. Pada ilmu kesastraan dan ketatanegaraan, misalnya, Puntadewa selalu lebih unggul. Soal adu tenaga dan keterampilan memainkan gada, Bima tidak tertandingi. Sedangkan dalam keterampilan memainkan panah dan pedang, Arjuna paling jago. Nakula dan Sadewa pada waktu itu masih kecil, belum banyak berperan. Di antara Pandawa dan Kurawa, Bima adalah anak yang paling besar tubuhnya dan paling kuat tenaganya. Di hari tuanya, kelima Pandawa menyongsong saat kematiannya dengan sadar. Mereka mendaki Gunung Himalaya untuk menyongsong ajal, diikuti oleh seekor anjing &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#ff0000;"&gt;berbulu putih. Yang pertama dijemput oleh Batara Yamadipati, dewa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#ff0000;"&gt;kematian adalah Dewi Drupadi (istri para Pandawa). Setelah itu Sadewa, kemudian Nakula, Arjuna, dan Bima. Puntadewa tidak menemui ajalnya. Sampai perjalanannya mencapai pintu surga, ia dijemput oleh Batara Endra. Namun sewaktu Batara Endra melarang seekor anjing putih yang hendak masuk, Puntadewa menolak ajakan Batara Endra masuk ke surga, katanya: "Jikalau sorga tidak menghargai kesetiaan, meskipun kesetiaan itu diperlihatkan oleh seekor anjing, sebaiknya hamba tidak usah masuk ke sorga yang demikian". &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;Seketika itu juga anjing tersebut berubah ujud menjadi Batara Dharma, ayah Puntadewa yang sebenarnya. Dalam pewayangan, Semar dan anak&lt;em&gt;-&lt;/em&gt;anaknya amat dominan dalam mengasuh para Pandawa. Banyak lakon-lakon pewayangan yang mengisahkan kemenangan para Pandawa, karena mereka mendengarkan nasihat dan petuah Ki Lurah Semar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SBmq1UdRqnI/AAAAAAAAAE0/-MGzJHvbTdE/s1600-h/punakawan.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195371478149868146" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 192px; CURSOR: hand; HEIGHT: 138px" height="122" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SBmq1UdRqnI/AAAAAAAAAE0/-MGzJHvbTdE/s200/punakawan.jpg" width="127" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SBmq1UdRqnI/AAAAAAAAAE0/-MGzJHvbTdE/s1600-h/punakawan.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;NB: Jika anda ingin menambahkan artikel ini, saya sangat menerimanya. Artikel tambahan dapat ditambahkan pada kolom komentar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-2695207650081191209?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/2695207650081191209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2008/05/pandawa-lima.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/2695207650081191209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/2695207650081191209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2008/05/pandawa-lima.html' title='Pandawa Lima'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/SBmi8EdRqlI/AAAAAAAAAEk/rYngnjVJge8/s72-c/pandawa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4138806637639646240.post-3570574231773528205</id><published>2008-02-15T19:30:00.000+07:00</published><updated>2008-02-22T18:42:11.541+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wayang Kulit'/><title type='text'>Wayang Kulit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/R7f1KE9ASiI/AAAAAAAAAAc/CQutEFwIqW0/s1600-h/puppet.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167868650908043810" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: pointer; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/R7f1KE9ASiI/AAAAAAAAAAc/CQutEFwIqW0/s320/puppet.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Wayang kulit&lt;/strong&gt; ? Ya, sekarang memang sudah jarang orang yang peduli pada kesenian tradisional yang satu itu. Saya kebetulan pecinta wayang kulit dan tertarik pada kesenian ini, dan juga saya memiliki wayang kulit. Saya memiliki beberapa website tentang wayang, bagi yang beminat untuk melihat websitenya silahkan klik di :&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;-&lt;em&gt;&lt;a href="http://www.wayangkom.com/"&gt;www.wayangkom.com&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.wayangkom.com/"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167872817026320946" style="FLOAT: right; MARGIN: 0pt 0pt 10px 10px; WIDTH: 132px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 155px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/R7f48k9ASjI/AAAAAAAAAAk/4hzvGwuyVbc/s200/puppet2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;em&gt;-&lt;a href="http://www.wayang-indonesia.com/"&gt;www.wayang-indonesia.com&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;em&gt;-&lt;a href="http://www.anelinda-store.com/"&gt;www.anelinda-store.com&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;em&gt;-&lt;a href="http://www.vindocomics.com/"&gt;www.vindocomics.com&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.vindocomics.com/"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Jika ada salah satu pembaca memiliki website tentang wayang kulit, silahkan ketik di kolom komentar di bawah ini. Disini kita juga bisa berbagi cerita / sharing soal wayang kulit dan pernak-perniknya. Bagi pembaca yang tinggal di Jakarta dan kebingungan untuk mencari tempat di mana menjual komik-komik wayang, saya kebetulan mempunyai alamatnya yaitu di :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;- Plaza Semanggi Lt.2 Vindo Comics&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;- ITC Fatmawati Lt.1 Vindo Comics&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Di sana terdapat berbagai pernak-pernik wayang yang dijual dengan harga cukup tejangkau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;br /&gt;Ditunggu ya cing informasinya......&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Yudhistira&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;( Tolong beri komentar tentang posting ini )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4138806637639646240-3570574231773528205?l=penggemarwayang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/feeds/3570574231773528205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2008/02/wayang-kulit.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/3570574231773528205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4138806637639646240/posts/default/3570574231773528205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggemarwayang.blogspot.com/2008/02/wayang-kulit.html' title='Wayang Kulit'/><author><name>Yudhistira B.P.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08250013294098139053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/Sujgv2F4E5I/AAAAAAAAAQs/ZVTlY-ieZq0/S220/yudhistira.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uhS27hUYr60/R7f1KE9ASiI/AAAAAAAAAAc/CQutEFwIqW0/s72-c/puppet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry></feed>
